BERIKABARNEWS l – Film terbaru Netflix berjudul The Great Flood tengah menjadi perbincangan hangat di dunia perfilman global. Karya arahan sutradara Kim Byung-woo ini sukses merajai peringkat pertama film non-Bahasa Inggris di Netflix, namun pada saat yang sama memicu gelombang kritik tajam dari penonton dan kritikus.
Dirilis pada 19 Januari 2025, film bergenre sci-fi disaster tersebut mencatat angka penayangan tinggi dalam waktu singkat. Meski demikian, respons yang diterima justru terbelah tajam, menjadikannya salah satu film Netflix paling kontroversial di awal tahun ini.
Peringkat 1 di 54 Negara
Berdasarkan data Netflix Tudum per 27 Desember, The Great Flood mencatat 27,9 juta jam tayang hanya dalam tiga hari pertama penayangan. Capaian tersebut mengantarkan film ini menduduki puncak tangga film Netflix di 54 negara, termasuk Brasil, Argentina, Thailand, Taiwan, dan Hong Kong.
Kesuksesan global ini tidak lepas dari reputasi Kim Byung-woo yang sebelumnya dikenal lewat film The Terror Live dan PMC: The Bunker. Selain itu, kehadiran Kim Da-mi sebagai pemeran utama turut menjadi daya tarik kuat bagi penonton internasional.
Namun, pencapaian tersebut berbanding terbalik dengan penilaian penonton di berbagai platform ulasan. Di Watchapedia, The Great Flood hanya memperoleh skor rata-rata 1,8 dari 5. Banyak penonton mengaku kecewa dengan perubahan arah cerita yang dianggap terlalu drastis, dari film bencana menjadi fiksi ilmiah kompleks yang sulit dipahami.
Kritik juga menyoroti alur cerita yang dinilai membingungkan serta tema emosional tentang kasih ibu yang dianggap dipaksakan. Sejumlah pengamat bahkan menyebut film ini lebih menyerupai eksperimen emosional yang dibungkus sebagai film bencana. Penilaian serupa muncul di Rotten Tomatoes, dengan skor kritikus sebesar 50 persen dan skor audiens yang lebih rendah, yakni 35 persen.
Baca Juga : Comeback Sang Kapten, Chris Evans Resmi Balik ke MCU
Di tengah derasnya kritik, penulis sekaligus penyiar Korea Selatan, Heo Ji-woong, justru memberikan pembelaan terbuka. Melalui media sosial, ia menilai hujatan terhadap The Great Flood terlalu berlebihan dan tidak sepenuhnya adil.
Heo Ji-woong menyoroti kecenderungan penonton masa kini yang, menurutnya, mengharapkan kepuasan instan atau “lonjakan dopamin” dari sebuah karya. Ia menyebut banyak audiens cepat menghakimi film yang tidak mengikuti pola hiburan konvensional. Pernyataannya tersebut memicu perdebatan lanjutan di ruang publik mengenai standar penilaian film di era platform digital.
Akting Kim Da-mi yang Luar Biasa
Terlepas dari kontroversi, film ini tetap mendapat apresiasi di sejumlah aspek. Akting Kim Da-mi menuai pujian luas berkat penampilan emosionalnya yang intens di tengah suasana hujan deras dan tekanan psikologis yang terus meningkat. Banyak penonton menilai performasinya menjadi kekuatan utama film ini.
Kontroversi The Great Flood mencerminkan dinamika baru industri hiburan di era OTT, ketika kesuksesan komersial dan penerimaan kritik tidak selalu berjalan seiring.
Di tengah pujian dan kecaman, film ini tetap menjadi bukti kuat bagaimana respons penonton dapat membentuk nasib sebuah karya dalam waktu singkat. *
Sumber :
News1
