BERIKABARNEWS l PONTIANAK – Tradisi permainan rakyat Meriam Karbit kembali memeriahkan suasana menjelang Hari Raya Idulfitri di Pontianak. Tahun ini, sebanyak 229 meriam karbit siap dinyalakan oleh 37 kelompok yang tersebar di sepanjang tepian Sungai Kapuas.
Wali Kota Edi Rusdi Kamtono menyambut baik kembali digelarnya tradisi yang telah menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Pontianak tersebut.
Menurutnya, permainan rakyat meriam karbit bukan sekadar hiburan menjelang Lebaran, tetapi juga warisan budaya yang telah berlangsung turun-temurun dan perlu terus dilestarikan.
“Tradisi Meriam Karbit merupakan warisan budaya masyarakat Pontianak yang sudah dikenal luas. Pemerintah Kota tentu mendukung pelestarian tradisi ini agar tetap hidup dan dapat diwariskan kepada generasi muda,” ujarnya usai Rapat Koordinasi Lintas Sektoral Persiapan Eksibisi Seni Budaya Meriam Karbit di ruang rapat wali kota, Senin (9/3/2026).
Pemerintah Kota Pontianak bersama aparat keamanan dan instansi terkait juga terus melakukan koordinasi agar pelaksanaan tradisi ini dapat berlangsung dengan tertib dan aman.
Edi mengimbau seluruh kelompok meriam karbit dan masyarakat yang terlibat untuk tetap memperhatikan aspek keselamatan serta mematuhi aturan yang telah disepakati.
“Kami berharap kegiatan ini dapat berlangsung meriah namun tetap aman, dengan tetap menjaga ketertiban dan keselamatan bersama,” katanya.
Baca Juga : Tradisi Tudang Manre Sipulung Satukan Warga Pontianak Saat Ramadan
Ketua Forum Komunikasi Seni dan Budaya Tradisi Meriam Karbit Kota Pontianak, Fajriudin Anshari, menjelaskan bahwa pelaksanaan tradisi tahun ini kembali digelar berkat dukungan Pemerintah Kota Pontianak yang konsisten mendorong pelestarian budaya lokal.
Ia menyebutkan, dari total 37 titik kelompok meriam karbit yang terlibat, 20 kelompok berada di wilayah Pontianak Timur, sementara 17 kelompok lainnya berada di Pontianak Selatan dan Pontianak Tenggara.
Seluruh kelompok tersebut akan menyalakan meriam karbit sebagai bagian dari tradisi menyambut Idulfitri sekaligus penanda berakhirnya bulan suci Ramadan.
Fajriudin menambahkan, persiapan kegiatan saat ini terus berjalan. Lokasi seremoni pembukaan yang berada di Gang Darsyad, Jalan Imam Bonjol, telah mencapai sekitar 80 persen.
Di lokasi tersebut sedang dipersiapkan panggung utama, panggung seni, serta panggar atau tempat meriam karbit.
Seremoni pembukaan rencananya akan dihadiri unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) baik dari tingkat provinsi maupun kota, termasuk Gubernur Kalimantan Barat dan Wali Kota Pontianak.
Baca Juga : Ustadz Das’ad Latif Ajak Warga Jaga Persatuan dalam Safari Kamtibmas Ramadan
Dari total meriam yang digunakan, 108 unit merupakan meriam balok yang dibuat dari kayu gelondongan, sedangkan 129 unit lainnya merupakan meriam non-balok yang terbuat dari bahan paralon maupun besi.
Menurut Fajriudin, meriam balok membutuhkan proses pembuatan yang lebih lama dan biaya yang lebih besar karena menggunakan bahan kayu gelondongan. Satu meriam balok bahkan bisa memerlukan waktu pembuatan hingga satu minggu.
Sementara itu, meriam non-balok relatif lebih mudah dibuat karena memanfaatkan bahan seperti paralon atau besi.
Ia berharap seluruh kelompok meriam karbit dan masyarakat dapat bersama-sama memeriahkan tradisi tersebut dengan tetap menjaga keamanan dan ketertiban.
Forum juga berharap Festival Meriam Karbit yang terakhir kali digelar pada 2023 dapat kembali diselenggarakan pada tahun 2027.
“Dengan adanya festival, setiap kelompok biasanya menampilkan pakaian adat dan ornamen budaya yang semakin memperkaya nilai tradisi Meriam Karbit,” pungkasnya.*
