BERIKABARNEWS l RIYADH – Amerika Serikat mengeluarkan peringatan resmi terkait potensi eskalasi cepat dalam konflik bersenjata antara Arab Saudi dan kelompok Houthi dari Yaman.
Peringatan tersebut muncul setelah serangan rudal dan drone menyasar ibu kota Riyadh serta fasilitas minyak Aramco untuk pertama kalinya sejak pertempuran kembali pecah pada Sabtu (19/9/2026).
Situasi tersebut juga membuat Presiden AS Donald Trump mengakhiri lebih cepat masa libur akhir pekannya di Camp David, Maryland. Trump dilaporkan kembali ke Gedung Putih lebih awal untuk menangani perkembangan terbaru di kawasan tersebut.=
Eskalasi di kawasan Teluk mendorong Washington mengambil sejumlah langkah keamanan dan diplomatik.
Kementerian Luar Negeri AS mengimbau warga negaranya yang berada di luar kawasan untuk meninjau ulang rencana perjalanan yang melintasi wilayah Timur Tengah.
Sementara itu, menurut laporan media Axios, Washington sempat menolak permintaan Arab Saudi untuk melancarkan serangan udara langsung terhadap markas Houthi pada pekan sebelumnya.
Baca Juga : Bom Mobil Meledak di Masjid Pakistan, 21 Tewas dan 80 Luka
Meski demikian, Amerika Serikat telah menyetujui penjualan 48 unit jet tempur F-35 kepada Arab Saudi. Nilai kesepakatan tersebut mencapai US$24,3 miliar dan ditujukan untuk memperkuat sistem pertahanan udara kerajaan.
Dua ledakan keras terdengar di Riyadh pada Sabtu dini hari. Saksi mata dan wartawan di lokasi melaporkan adanya kepulan asap hitam dari depot penyimpanan bahan bakar berlogo Aramco yang berada di dekat Bandara Internasional Raja Khalid.
Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengklaim kelompoknya bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Houthi menyatakan telah meluncurkan sejumlah rudal balistik, rudal jelajah, dan drone. Serangan itu disebut menyasar sejumlah target vital di Riyadh serta kilang minyak Aramco di pelabuhan strategis Yanbu, Laut Merah.
Namun, Koalisi Kepolisian dan Militer pimpinan Arab Saudi menyatakan pertahanan udaranya berhasil mencegat dan menghancurkan rudal balistik Houthi sebelum mencapai sasaran utama.
Koalisi tersebut juga menyebut sistem pertahanan udara kerajaan berhasil menggagalkan ancaman terhadap infrastruktur sipil di wilayah barat Arab Saudi.
Baca Juga : Bencana Nepal-Cina: 1446 Orang Tewas, 6669 Masih Hilang
Gencatan senjata antara Arab Saudi dan Houthi yang berlangsung sejak 2022 dilaporkan kembali runtuh pada Juli 2026. Kondisi tersebut terjadi setelah kelompok Houthi mengizinkan pesawat militer Iran mendarat di Yaman.
Sejak itu, Houthi disebut meningkatkan serangan untuk menguasai jalur pantai Laut Merah dan Selat Bab al-Mandab.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat pertempuran dalam beberapa pekan terakhir telah menimbulkan ratusan korban jiwa. Lebih dari 110.000 warga sipil juga dilaporkan terpaksa mengungsi.
Situasi tersebut turut menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi global. Arab Saudi merupakan salah satu produsen dan eksportir minyak mentah terbesar dunia.
Serangan terhadap infrastruktur energi Arab Saudi berpotensi mengganggu pasokan energi global. Gangguan keamanan di kawasan tersebut juga dapat berdampak terhadap lalu lintas pelayaran internasional, terutama di sekitar Laut Merah dan Selat Bab al-Mandab.*
