BERIKABARNEWS l KIEV – Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mendesak Amerika Serikat (AS) segera menyetujui pengiriman rudal untuk sistem pertahanan udara Patriot dan NASAMS. Ia mengungkapkan, Ukraina telah menunggu hampir sebulan agar Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menandatangani dokumen pasokan persenjataan tersebut.
Desakan itu disampaikan Zelenskyy melalui unggahan di akun resmi X, di tengah meningkatnya serangan rudal Rusia ke ibu kota Kyiv.
Zelenskyy menyebut keterlambatan persetujuan tersebut menjadi persoalan mendesak bagi Ukraina. Ia juga telah menginstruksikan timnya untuk kembali membahas pengiriman rudal itu dengan pihak Amerika Serikat.
“Secara khusus, kami telah menunggu hampir sebulan bagi Tuan Hegseth untuk menandatangani pasokan rudal untuk Patriot dan NASAMS. Saya telah menginstruksikan tim kami untuk mengangkat kembali masalah ini dengan pihak Amerika,” kata Zelenskyy.
Baca Juga : Houthi Klaim Serang Enam Lokasi Strategis di Arab Saudi
Desakan Ukraina muncul beberapa jam setelah serangan rudal Rusia menghantam Kyiv pada Senin malam. Wali Kota Kyiv, Vitali Klitschko, mengonfirmasi sedikitnya satu orang tewas dan 10 lainnya mengalami luka-luka akibat serangan tersebut.
Serangan itu merusak sejumlah fasilitas, termasuk bangunan pendidikan, kawasan permukiman, stasiun kereta bawah tanah, serta stasiun pemancar listrik. Kerusakan pada infrastruktur kelistrikan di wilayah timur Sungai Dnipro juga menyebabkan pemadaman listrik secara meluas.
Sebagian besar korban luka dilaporkan merupakan mahasiswa yang berada di luar asrama State Trade and Economics University. Selain itu, dua anggota tim penyelamat turut terluka akibat ledakan saat memberikan pertolongan darurat.
Baca Juga : Nvidia Rebut Pasar CPU Intel dan AMD, Modal Pilih Chip Vera
Zelenskyy menegaskan, ketepatan waktu pengiriman amunisi pertahanan udara sangat penting untuk melindungi warga sipil Ukraina dari serangan Rusia.
Menurutnya, penundaan pasokan pertahanan udara, termasuk akibat kendala birokrasi yang tidak perlu, dapat memperbesar risiko bagi masyarakat di berbagai wilayah Ukraina.
“Dalam kondisi seperti ini, ketika ancaman selalu ada dan serangan dapat terjadi kapan saja di kota maupun desa, penundaan buatan dalam pasokan pertahanan udara untuk Ukraina sama saja dengan membantu teror,” ujar Zelenskyy melalui saluran Telegram pribadinya.
Sementara itu, tim penyelamat setempat masih melanjutkan proses pencarian dan evakuasi korban di lokasi bangunan apartemen yang hancur akibat serangan.
Di sisi lain, pemerintah Rusia secara konsisten membantah bahwa militernya sengaja menjadikan fasilitas sipil sebagai sasaran dalam operasi di Ukraina.*
