BERIKABARNEWS l TEHERAN – Iran mengancam memperluas front perang hingga ke Samudra Hindia jika Amerika Serikat (AS) kembali melancarkan serangan.
Peringatan tersebut disampaikan penasihat militer Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei, Yahya Rahim Safavi, melalui rekaman video yang dirilis kantor berita Iran, Fars, pada Kamis (24/9/2026).
Safavi mengatakan konflik yang sebelumnya meluas dari Teluk Persia dan Selat Hormuz ke Laut Merah masih berpotensi berkembang lebih jauh.
Menurut dia, front pertempuran dapat mencapai Samudra Hindia, bahkan wilayah lain, jika perang terus berlanjut.
Pernyataan Safavi menjadi salah satu peringatan paling eksplisit dari penasihat senior Pemimpin Tertinggi Iran terkait kemungkinan perluasan wilayah konflik ke Samudra Hindia.
Baca Juga : Riyadh Diserang Rudal Houthi, AS Keluarkan Peringatan Eskalasi
Ancaman perluasan perang ke Samudra Hindia muncul karena kawasan tersebut memiliki nilai strategis bagi operasi militer AS dan Inggris.
Di Samudra Hindia terdapat pangkalan militer gabungan AS dan Inggris di Diego Garcia. Pangkalan tersebut berjarak sekitar 4.000 kilometer dari wilayah Iran.
Peringatan Iran disampaikan ketika ketegangan di kawasan Laut Merah dan Selat Bab al-Mandab juga meningkat.
Kelompok Houthi di Yaman yang berperang melawan pasukan pemerintah yang didukung Arab Saudi dilaporkan telah menguasai wilayah pesisir Laut Merah. Kondisi itu memperkuat posisi Houthi di sekitar Selat Bab al-Mandab, jalur strategis yang menghubungkan Asia dan Eropa melalui Terusan Suez.
Iran diketahui memberikan dukungan militer kepada Houthi. Namun, Teheran secara konsisten membantah keterlibatan langsung dalam konflik di Yaman.
Selain Laut Merah, Selat Hormuz menjadi salah satu titik utama ketegangan antara Iran dan AS.
Selat yang berada di lepas pantai Iran tersebut merupakan jalur penting bagi distribusi energi dunia. Ketegangan meningkat setelah serangan AS dan Israel yang memicu pecahnya perang pada akhir Februari.
Iran kemudian memperketat kendali terhadap lalu lintas di Selat Hormuz. Di sisi lain, AS dan Iran kini berhadapan terkait kendali atas jalur laut strategis tersebut.
Pejabat Iran sebelumnya telah memperingatkan bahwa wilayah konflik dapat diperluas jika serangan AS kembali dilakukan.
Namun, pernyataan Safavi pada Kamis secara khusus menyebut Samudra Hindia sebagai kemungkinan wilayah perluasan front perang.
Baca Juga : Bom Mobil Meledak di Masjid Pakistan, 21 Tewas dan 80 Luka
Di tengah ancaman perluasan konflik, Pemerintah Iran juga menyampaikan sejumlah tuntutan untuk mengakhiri perang dengan AS.
Teheran meminta seluruh sanksi yang berdampak terhadap perekonomian Iran dicabut. Iran juga menuntut aset-aset negaranya yang dibekukan di luar negeri dibebaskan.
Dikutip dari AFP pada Selasa (22/9/2026), Juru Bicara Garda Revolusi Iran Hossein Mohebi menyebut penghentian perang di Yaman sebagai bagian dari tuntutan terbaru Teheran.
Mohebi mengatakan Iran memperketat persyaratan setelah kesepakatan yang sebelumnya dibahas pada Juni gagal tercapai.
Selain pencairan aset Iran yang dibekukan di luar negeri, Teheran juga menginginkan isu perang di Yaman dimasukkan dalam kesepakatan untuk mengakhiri konflik.
Dengan perkembangan tersebut, ketegangan perang tidak lagi hanya berpusat di Teluk Persia dan Selat Hormuz. Konflik juga telah menjalar ke kawasan Laut Merah, sementara Iran kini secara terbuka memperingatkan kemungkinan perluasan front hingga Samudra Hindia jika serangan AS kembali terjadi.*
