BERIKABARNEWS l JAKARTA – Bank Indonesia (BI) terus memperkuat bauran kebijakan strategis untuk menjaga stabilitas makroekonomi sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Langkah ini menjadi bagian dari dukungan BI terhadap Program Asta Cita Pemerintah guna mewujudkan perekonomian yang tangguh dan berkelanjutan.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan bahwa sejak triwulan IV 2025 hingga Januari 2026, kebijakan moneter difokuskan pada penguatan nilai tukar Rupiah serta optimalisasi operasi moneter yang berorientasi pro-market.
Dalam rapat kebijakan terbaru, Bank Indonesia memutuskan mempertahankan suku bunga acuan BI-Rate di level 4,75 persen. Kebijakan yang konsisten sejak Oktober 2025 ini ditempuh sebagai langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah volatilitas pasar keuangan global.
“Kebijakan ini diarahkan untuk memperkuat stabilitas Rupiah sekaligus menjaga efektivitas transmisi kebijakan moneter, tanpa mengabaikan upaya mendorong pertumbuhan ekonomi,” ujar Perry Warjiyo di Jakarta, Selasa (27/1/2026).
Selain kebijakan suku bunga, BI juga mengoptimalkan insentif likuiditas dan digitalisasi sistem keuangan. Melalui Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM), BI mendorong peningkatan penyaluran kredit dan pembiayaan perbankan ke sektor-sektor prioritas.
Di sisi lain, akselerasi sistem pembayaran digital terus dilakukan untuk memperkuat ekonomi dan keuangan digital nasional, termasuk melalui elektronifikasi transaksi keuangan pemerintah.
Baca Juga : Registrasi SIM Biometrik Resmi Diterapkan untuk Cegah Penipuan Digital
Strategi Intervensi Nilai Tukar Rupiah
Untuk memperdalam pasar keuangan, BI juga mengintensifkan operasi moneter pro-market guna memperkuat pasar uang dan pasar valuta asing (PUVA), sehingga meningkatkan daya tarik aset keuangan domestik di mata investor.
Menatap ke depan, Perry Warjiyo menyatakan bahwa peluang penurunan BI-Rate masih terbuka, dengan mempertimbangkan dinamika inflasi dan kebutuhan mendorong pertumbuhan ekonomi.
“Inflasi 2026–2027 diperkirakan tetap terkendali dalam sasaran 2,5±1 persen. Jika inflasi rendah dan kebutuhan stimulus meningkat, ruang pelonggaran suku bunga tetap tersedia,” jelasnya.
Dalam menjaga stabilitas nilai tukar, Bank Indonesia juga aktif melakukan intervensi di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) luar negeri, transaksi spot dan NDF di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
Melalui bauran kebijakan yang konsisten dan sinergi lintas kebijakan, Bank Indonesia optimistis stabilitas makroekonomi tetap terjaga dan sektor riil memperoleh dukungan yang memadai untuk terus tumbuh sejalan dengan visi Asta Cita. *
Sumber :
InfoPublik
