BERIKABARNEWS l – Bursa saham global menutup tahun 2025 dengan catatan cemerlang. Meski mengalami koreksi tipis pada perdagangan terakhir, Rabu (31/12/2025), mayoritas indeks utama dunia berhasil mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah. Pemangkasan suku bunga oleh bank sentral serta pesatnya perkembangan sektor Artificial Intelligence (AI) menjadi motor utama penguatan pasar.
Analis Briefing.com, Patrick O’Hare, menyebut 2025 sebagai “tahun yang spektakuler bagi ekuitas”. Menurutnya, meredanya tekanan inflasi yang diikuti pelonggaran kebijakan moneter The Federal Reserve telah memberikan dorongan besar terhadap minat risiko investor di berbagai belahan dunia.
Di Wall Street, kinerja indeks saham sepanjang 2025 terbilang solid. Nasdaq Composite memimpin penguatan dengan lonjakan 20,4%, didorong euforia saham teknologi dan AI. S&P 500 menyusul naik 16,4%, sementara Dow Jones Industrial Average menguat 13%. Meski perdagangan di hari terakhir tahun ditutup sedikit melemah akibat volume transaksi yang menipis, capaian tahunan tetap mencerminkan optimisme kuat pasar.
Penguatan tidak hanya terjadi di Amerika Serikat. Bursa global juga mencatatkan performa impresif sepanjang 2025. Indeks KOSPI Seoul mencatat kenaikan tertinggi di Asia dengan lonjakan sekitar 75%. Di Eropa, indeks FTSE 100 London menguat 21%, menjadi kinerja terbaik dalam 16 tahun terakhir, sementara DAX Frankfurt naik 23%. Di Asia, Hang Seng Hong Kong menguat 28% seiring pulihnya kepercayaan investor, dan Nikkei 225 Tokyo menutup tahun dengan kenaikan 26%.
Sektor teknologi, terutama pengembangan AI, menjadi katalis utama reli pasar global. Nvidia mencetak sejarah dengan valuasi pasar sempat menembus US$5 triliun pada Oktober 2025, sebelum akhirnya menutup tahun di kisaran US$4,5 triliun. Namun, pada kuartal terakhir, investor mulai mencermati tingginya valuasi saham AI, sehingga memicu aksi ambil untung.
Baca Juga : Nvidia Dikabarkan Akan Akuisisi Startup AI Israel, AI21 Labs
Sementara itu, pergerakan pasar komoditas dan aset alternatif berlangsung beragam. Harga emas mencetak rekor tertinggi berulang kali sepanjang tahun, didorong pelemahan dolar AS dan meningkatnya permintaan aset lindung nilai.
Bitcoin menunjukkan volatilitas ekstrem dengan sempat menembus US$126.000 pada Oktober, sebelum terkoreksi ke level sekitar US$88.000 di akhir tahun. Di sisi lain, harga minyak bumi justru tertekan dan merosot hampir 20% sepanjang 2025 akibat kondisi kelebihan pasokan global.
Memasuki tahun 2026, perhatian pelaku pasar kini tertuju pada langkah lanjutan The Federal Reserve. Stephen Innes dari SPI Asset Management menilai kepastian arah kebijakan moneter akan menjadi kunci.
“Untuk mendorong pasar lebih tinggi di 2026, ekuitas membutuhkan konfirmasi setidaknya dua kali pemangkasan suku bunga lagi tanpa menghambat pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.*
Sumber :
AFP
