BERIKABARNEWS l PONTIANAK – Band indigenous rock asal Pontianak, Kalimantan Barat, LAS! kembali hadir melalui album penuh ketiga bertajuk “21st Century of Troubadour”. Album ini menjadi ruang bagi para personel untuk merekam perjalanan, keresahan, dan refleksi kehidupan mereka.
Album “21st Century of Troubadour” resmi dirilis pada 18 Agustus 2026. Berisi delapan langgam, album tersebut mengangkat buah pikir, ketekunan, serta laku spiritual profan para trubadur abad ke-21.
Sejumlah karya yang sebelumnya telah dirilis juga masuk dalam album ini, di antaranya “Whiskey Cola”, “Semuakan baxx’ saja”, dan “Lagu Penyelamat”.
Kehadiran album ketiga ini menawarkan pendekatan berbeda dibandingkan dua album LAS! sebelumnya, yakni “Bona Fortuna” (2017) dan “Kota Kecil dan Rock n’Roll” (2021).
Jika dua album sebelumnya banyak berbicara tentang dinamika politik kontemporer, realitas sosial, dan advokasi ekologi, “21st Century of Troubadour” lebih dekat dengan pengalaman personal para personel.
Baca Juga : Setelah 10 Tahun, Sidepony Lanjutkan Perjalanan Musik Lewat ‘September’
“Album 21st Century Troubadour bertumpu pada telisik dan refleksi kehidupan sehari-hari para personel, ketika kebebasan berkesenian sering kali silang sengkarut dengan kenyamanan sosial, sanak keluarga, bahkan romansa,” ujar Diaz, drummer LAS! sekaligus penulis lirik.
Diaz mengatakan album terbaru LAS! turut menggambarkan perjalanan dan krisis yang mereka alami. Menurutnya, karya-karya dalam album tersebut menjadi semacam potret kehidupan yang memperlihatkan pencapaian, kegagalan, hingga cara seseorang menghadapi keduanya.
“Album ini secara singkat memotret krisis seperempat abad yang mereka alami. Melihat pencapaian beberapa teman di luar sana yang berhasil di tahun ini, suka cita dan minum-minum untuk merayakan keberhasilannya. Sebagian lainnya yang kalah dan gagal, minum lebih banyak sambil bersedih, itu saja pembedanya,” katanya.
Untuk pertama kalinya, LAS! juga mengambil langkah memproduseri sendiri album penuh ketiga mereka. Seluruh proses penggarapan dilakukan di basecamp dengan bimbingan Momo Biru.
Baca Juga : Manggung Di Muara Hidupkan Tepian Sungai Kuching, Hadirkan Musisi Tiga Negara
Bob Gloriaus, personel lini depan sekaligus gitaris utama LAS!, mengatakan basecamp dipilih karena menjadi ruang yang selama ini digunakan LAS! untuk mengembangkan ide dan karya.
“Semua kidung di 21st Century Troubadour kita garap di basecamp dengan bimbingan dari Momo Biru,” ujar Bob.
Ia menjelaskan, album tersebut memuat keresahan dan krisis personal yang dirasakan para personel selama perjalanan bersama LAS!. Karena itu, basecamp dianggap menjadi ruang paling representatif untuk menerjemahkan gagasan dan pengalaman mereka ke dalam musik.
“Album ini memuat hampir seluruh keresahan krisis pribadi kami tatkala berselancar bersama LAS! selama satu dasawarsa,” katanya.
Album “21st Century of Troubadour” kini sudah dapat didengarkan dan diunduh melalui berbagai platform layanan musik digital.*
