BERIKABARNEWS l l PONTIANAK — Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat (Pemprov Kalbar) memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi basah menjelang musim penghujan 2026/2027.
Upaya tersebut dibahas dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Kesiapsiagaan yang dipimpin Gubernur Kalbar Ria Norsan di Balai Petitih Kantor Gubernur Kalbar, Selasa (6/10/2026).
Rakor melibatkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta pemerintah kabupaten/kota se-Kalimantan Barat. Pembahasan diarahkan pada kesiapan menghadapi potensi banjir, banjir rob, angin kencang, dan tanah longsor.
Baca Juga : Gubernur Ria Norsan Hadiri HUT ke-81 TNI, Dorong Sinergi Jaga Kalbar
Sebanyak 559 desa/kelurahan yang teridentifikasi berada di zona rawan bencana menjadi perhatian dalam kesiapsiagaan menghadapi musim penghujan.
Gubernur Ria Norsan meminta seluruh kepala daerah memahami kondisi wilayah masing-masing, terutama lokasi yang berisiko terdampak luapan air maupun tanah longsor.
Kesiapan evakuasi juga harus dipastikan, termasuk ketersediaan lokasi pengungsian, logistik, personel, dan peralatan medis. Di sisi lain, informasi prakiraan cuaca serta peringatan dini dari BMKG perlu diteruskan secara cepat dan jelas hingga ke masyarakat.
Langkah tersebut diharapkan membuat pemerintah daerah dapat mengambil tindakan lebih cepat ketika terjadi perubahan cuaca ekstrem atau peningkatan potensi bencana.
Baca Juga : Pemprov Kalbar Perkuat Kesiapsiagaan Hadapi Cuaca Ekstrem
Ria Norsan menegaskan penanganan bencana harus mengutamakan keselamatan masyarakat. Menurutnya, dinamika cuaca membutuhkan respons cepat dan koordinasi lintas sektor.
“Angka-angka ini bukan sekadar statistik, tetapi gambaran nyata penderitaan warga kita. Tahun ini kita harus lebih siap agar dampaknya dapat ditekan,” tegas Gubernur Ria Norsan, Selasa (6/10/2026).
Pemprov Kalbar berharap koordinasi antara pemerintah daerah, BMKG, dan unsur terkait semakin kuat selama musim penghujan 2026/2027.
Kesiapsiagaan sejak dini diharapkan dapat menekan risiko korban maupun kerusakan akibat bencana hidrometeorologi di Kalimantan Barat.*
