BERIKABARNEWS l – Raksasa semikonduktor Nvidia resmi memperketat skema penjualan chip kecerdasan buatan (AI) ke China. Untuk pemesanan chip AI H200, perusahaan kini mewajibkan pembayaran penuh 100 persen di muka, tanpa opsi pembatalan, pengembalian dana, maupun perubahan spesifikasi setelah transaksi dilakukan.
Kebijakan baru ini mulai berlaku Kamis (8/1/2026) dan menggantikan sistem lama yang masih mengizinkan pembayaran uang muka sebagian. Langkah tersebut diambil sebagai respons atas ketidakpastian regulasi yang terus meningkat akibat dinamika geopolitik antara Amerika Serikat dan China.
Dalam skema terbaru, seluruh transaksi bersifat final. Setelah pembayaran dilakukan, pelanggan tidak lagi memiliki ruang untuk mengubah atau membatalkan pesanan.
Keputusan Nvidia tak lepas dari pengalaman pahit tahun lalu, ketika perusahaan harus mencatat kerugian hingga US$5,5 miliar akibat perubahan mendadak kebijakan ekspor Amerika Serikat terhadap chip AI seri H20.
Meski pemerintahan Presiden AS Donald Trump kini mengizinkan penjualan H200 ke China dengan tambahan bea 25 persen, ketidakpastian masih membayangi. Dari sisi China, regulator disebut tengah menyiapkan aturan baru yang mendorong pembelian chip lokal, seperti Huawei Ascend 910C, bersamaan dengan impor chip asing.
Menariknya, kebijakan ketat dan harga mahal tidak menyurutkan minat pasar. Dengan banderol sekitar US$27.000 per unit atau setara Rp420 juta, chip H200 tetap diburu perusahaan teknologi besar China.
Nama-nama seperti ByteDance disebut masih agresif memesan chip tersebut karena kemampuannya yang diklaim enam kali lebih kuat dibandingkan generasi sebelumnya, khususnya untuk kebutuhan komputasi AI berskala besar.
Permintaan bahkan dilaporkan melonjak menjelang Tahun Baru Imlek 2026. Total pesanan disebut telah melampaui dua juta unit, dengan pengiriman tahap awal ditargetkan tiba sebelum pertengahan Februari. Nvidia juga dikabarkan bekerja sama dengan TSMC untuk meningkatkan produksi pada kuartal kedua 2026.
Baca Juga : Nvidia Dikabarkan Akan Akuisisi Startup AI Israel, AI21 Labs
Dengan kebijakan pembayaran penuh di muka, Nvidia secara efektif mengalihkan risiko finansial kepada pelanggan. Jika izin impor dibatalkan atau kuota diperketat oleh pemerintah China, kerugian sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembeli.
Di sisi lain, izin impor H200 disebut hanya diberikan secara terbatas untuk sektor komersial tertentu. Sementara itu, sektor militer, infrastruktur kritis, dan BUMN China tetap dilarang menggunakan chip tersebut dengan alasan keamanan nasional.
“Permintaan pelanggan sangat tinggi. Jika pesanan datang, itu berarti mereka sudah siap dengan seluruh ketentuan yang berlaku,” ujar CEO Nvidia Jensen Huang.
Kebijakan ini menegaskan strategi Nvidia dalam menjaga stabilitas bisnis di tengah tekanan geopolitik global, sekaligus menunjukkan betapa sensitifnya industri chip AI dalam persaingan teknologi dunia. *
Sumber :
Reuters
