BERIKABARNEWS l JAKARTA – Pemerintah Indonesia terus memperkuat Program Imunisasi Nasional dengan memperluas penggunaan vaksin Heksavalen mulai tahun 2026. Kebijakan ini bertujuan memberikan perlindungan kesehatan yang lebih optimal bagi anak-anak Indonesia sekaligus menyederhanakan proses imunisasi bagi orang tua.
Direktur Imunisasi Kementerian Kesehatan, Indri Yogyaswari, menyampaikan bahwa imunisasi merupakan investasi kesehatan jangka panjang. Dengan cakupan imunisasi yang tinggi dan merata, kekebalan kelompok atau herd immunity dapat terbentuk sehingga mampu mencegah kesakitan, kecacatan, hingga kematian pada anak.
“Imunisasi bukan hanya melindungi individu, tetapi juga masyarakat secara luas. Karena itu, pemerintah terus berupaya meningkatkan kualitas dan efektivitas program imunisasi nasional,” ujar Indri, Senin (29/12/2025).
Vaksin Heksavalen merupakan vaksin kombinasi enam dalam satu suntikan yang memberikan perlindungan terhadap enam penyakit berbahaya sekaligus, yakni difteri, pertusis (batuk rejan), tetanus, hepatitis B, pneumonia dan meningitis akibat Haemophilus influenzae tipe b, serta polio. Dengan penggunaan vaksin ini, anak tidak lagi memerlukan suntikan terpisah untuk imunisasi polio suntik (IPV).
“Dengan vaksin Heksavalen, jumlah suntikan pada anak berkurang secara signifikan. Hal ini membuat proses imunisasi lebih nyaman bagi anak dan memudahkan orang tua karena kunjungan ke fasilitas kesehatan menjadi lebih sederhana,” jelas Indri.
Pemerintah memastikan bahwa penerapan vaksin Heksavalen tidak mengubah jadwal imunisasi rutin. Vaksin tetap diberikan pada usia 2, 3, dan 4 bulan, serta tetap disertai pemberian vaksin polio oral (bOPV).
Terkait aspek keamanan, Ketua Komite Nasional Pengkajian dan Penanggulangan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (PP KIPI), Prof. Dr. Hindra Irawan Satari, menegaskan bahwa vaksin Heksavalen telah memiliki profil keamanan yang baik.
“Vaksin Heksavalen telah melalui uji klinis yang panjang, terdaftar resmi di Badan POM, dan aman digunakan. Surveilans KIPI juga terus dilakukan secara aktif untuk memastikan keselamatan setiap anak,” tegasnya.
Sebelumnya, vaksin Heksavalen telah diimplementasikan secara bertahap di sembilan provinsi, antara lain DI Yogyakarta, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan wilayah Papua sejak Oktober 2025. Pemerintah menargetkan perluasan penggunaan vaksin ini secara nasional mulai tahun 2026.
Baca Juga : Benarkah KB Hormonal Picu Kanker Payudara? Ini Penjelasan Medisnya
Kementerian Kesehatan juga mengingatkan bahwa imunisasi dapat dilakukan kapan saja melalui imunisasi kejar, khususnya bagi anak yang sempat terlewat jadwal. Langkah ini penting untuk menekan risiko penularan penyakit menular berbahaya maupun terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB).
Pemerintah mengajak seluruh lapisan masyarakat, termasuk tokoh agama, tokoh masyarakat, dan tenaga kesehatan, untuk bersama-sama menyukseskan program imunisasi nasional demi mewujudkan generasi Indonesia yang lebih sehat, kuat, dan tangguh di masa depan. *
Sumber :
InfoPublik.id
