BERIKABARNEWS l – Pemerintah Pakistan mengerahkan pasukan keamanan secara besar-besaran untuk memburu kelompok separatis menyusul rangkaian serangan terkoordinasi di Provinsi Balochistan. Serangan yang berlangsung selama dua hari itu dilaporkan menewaskan lebih dari 190 orang dan menjadi eskalasi kekerasan terbesar dalam satu dekade terakhir.
Hingga Minggu (1/2/2026), sedikitnya 12 lokasi strategis di Balochistan masih disegel aparat. Pasukan keamanan melakukan penyisiran intensif setelah kelompok bersenjata menyerang bank, penjara, kantor polisi, hingga fasilitas militer secara bersamaan.
Puluhan Warga Sipil dan Aparat Gugur
Ketua Menteri Balochistan, Sarfraz Bugti, mengatakan sedikitnya 31 warga sipil dan 17 personel keamanan tewas dalam serangan tersebut. Sementara itu, militer Pakistan mengklaim telah menewaskan sedikitnya 145 militan dalam operasi balasan, termasuk lebih dari 40 orang yang dilumpuhkan dalam operasi sebelumnya.
“Kami sedang mengejar mereka. Kami tidak akan membiarkan para pelaku lolos. Kami akan memburu mereka hingga ke persembunyiannya,” tegas Bugti dalam konferensi pers di Quetta.
Quetta Lumpuh Total
Serangan ini berdampak besar terhadap aktivitas masyarakat. Kota Quetta, ibu kota provinsi, praktis lumpuh. Toko-toko tutup, jalanan utama kosong, dan layanan internet seluler diputus selama lebih dari 24 jam. Transportasi darat dan layanan kereta api juga dihentikan demi alasan keamanan.
Seorang warga Quetta, Hamdullah (39), menggambarkan suasana mencekam yang dirasakan masyarakat. “Setiap orang yang keluar rumah tidak tahu apakah bisa kembali dengan selamat. Rasa takut terus menghantui,” ujarnya.
BLA Klaim Tanggung Jawab
Tentara Pembebasan Baloch (Baloch Liberation Army/BLA) mengklaim bertanggung jawab atas serangan sistematis tersebut. Kelompok separatis yang telah ditetapkan sebagai organisasi teroris oleh Amerika Serikat itu menyatakan menargetkan fasilitas militer dan kantor pemerintahan melalui baku tembak serta bom bunuh diri.
Sejumlah analis keamanan menilai serangan kali ini memiliki pola berbeda. Selain dilakukan secara terbuka di siang hari, militan juga disebut melibatkan perempuan sebagai pelaku bom bunuh diri. Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Asif, mengungkapkan setidaknya satu pelaku adalah perempuan muda.
Selain itu, militan dilaporkan membobol penjara dan membebaskan sekitar 30 narapidana, serta menjarah gudang amunisi milik kepolisian setempat.
Baca Juga : 170 Warga Sipil Tewas akibat 400 Serangan Udara Militer Myanmar Saat Pemilu
Tudingan Terhadap India
Pemerintah Pakistan turut menuding adanya dukungan dari India terhadap kelompok penyerang. Namun hingga kini, Islamabad belum memaparkan bukti konkret atas klaim tersebut.
India dengan tegas membantah tuduhan itu. Juru bicara Kementerian Luar Negeri India, Randhir Jaiswal, menyebut tudingan Pakistan sebagai upaya mengalihkan perhatian dari persoalan internal.
Konflik Lama di Provinsi Kaya Sumber Daya
Balochistan merupakan provinsi terluas namun termiskin di Pakistan, meski kaya gas alam dan mineral. Selama puluhan tahun, wilayah ini dilanda pemberontakan separatis akibat ketimpangan pembangunan dan tudingan eksploitasi sumber daya oleh pemerintah pusat.
Minimnya akses pendidikan, lapangan kerja, dan infrastruktur menjadikan kawasan yang berbatasan dengan Afghanistan dan Iran tersebut terus diliputi konflik berkepanjangan. (ing)
Sumber :
AFP
