BERIKABARNEWS l PONTIANAK – Lonjakan harga plastik hingga 50–100 persen per April 2026 mulai memberi tekanan serius bagi industri manufaktur dan pelaku UMKM di Indonesia. Kenaikan ini dipicu oleh fluktuasi harga minyak dunia, gangguan rantai pasok global, serta ketidakpastian geopolitik yang masih berlangsung.
Dampaknya langsung terasa pada biaya produksi, khususnya di sektor makanan dan minuman yang sangat bergantung pada kemasan plastik. Jika kondisi ini berlanjut, pelaku usaha berpotensi menaikkan harga jual, yang pada akhirnya membebani konsumen.
Di tengah situasi tersebut, tren penggunaan kemasan ramah lingkungan mulai mendapat perhatian lebih. Banyak pelaku usaha mulai melirik alternatif yang lebih hemat sekaligus berkelanjutan.
Data dari Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional menunjukkan timbunan sampah plastik di Indonesia terus meningkat. Dari sekitar 9 juta ton pada 2019, jumlahnya diperkirakan mencapai 12,4 juta ton pada 2025.
Baca Juga : Harga Avtur Naik, Pemerintah Sesuaikan Tiket Pesawat dengan Subsidi PPN
Namun, kapasitas pengelolaan sampah masih terbatas. Dari ratusan tempat pembuangan akhir yang ada, hanya sebagian yang mampu mengelola sampah secara optimal. Kondisi ini memperparah persoalan lingkungan akibat plastik.
Kenaikan harga plastik pada 2026 pun menjadi momentum bagi industri dan masyarakat untuk beralih ke konsep ekonomi sirkular.
Penggunaan kemasan yang dapat digunakan kembali atau berbahan ramah lingkungan dinilai menjadi langkah strategis untuk menghadapi tekanan ekonomi sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.*
Sumber :
InfoPublik.id
