BERIKABARNEWS l PONTIANAK – Beberapa waktu terakhir, media sosial diramaikan oleh unggahan sekolah yang menampilkan murid dengan capaian nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA) tertinggi. Foto-foto murid berprestasi dipublikasikan dengan penuh kebanggaan, disertai capaian angka yang mengesankan. Fenomena ini tentu dapat dipahami sebagai bentuk apresiasi terhadap kerja keras murid, guru, dan sekolah dalam mencapai hasil terbaik.
Namun di balik kebanggaan tersebut terdapat ruang refleksi yang perlu dihadirkan bersama. Apakah tingginya nilai TKA benar-benar mencerminkan kualitas pembelajaran yang telah berlangsung selama bertahun-tahun atau justru hanya menjadi indikator keberhasilan sesaat yang belum tentu menggambarkan kedalaman pemahaman murid?
Pertanyaan ini menjadi penting karena sejarah pendidikan di berbagai negara menunjukkan bahwa ketika hasil tes dijadikan ukuran utama keberhasilan sekolah, maka perlahan fokus pendidikan dapat bergeser. Sekolah tidak lagi berorientasi pada bagaimana murid belajar secara bermakna, melainkan pada bagaimana murid memperoleh nilai setinggi mungkin. Akibatnya, proses pembelajaran yang seharusnya membangun pemahaman mendalam berisiko berubah menjadi sekadar latihan menghadapi tes.
Tentu tidak ada yang salah dengan nilai yang tinggi. Bahkan, capaian akademik terstandar seperti TKA yang baik merupakan sesuatu yang patut disyukuri. Yang perlu menjadi perhatian adalah ketika publikasi nilai tinggi kemudian dimaknai secara sempit sebagai satu-satunya indikator keberhasilan sekolah. Jangan sampai muncul anggapan bahwa sekolah yang baik adalah sekolah yang berhasil menghasilkan skor TKA tinggi, sementara kualitas proses pembelajaran yang sesungguhnya justru luput dari perhatian.
Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Ketika angka menjadi target utama, selalu ada godaan untuk menempuh jalan yang paling cepat. Program pembelajaran berpotensi dipenuhi latihan soal, pengulangan pola pertanyaan, hingga berbagai strategi yang berorientasi pada peningkatan skor jangka pendek. Murid mungkin mampu menjawab soal dengan baik pada saat asesmen berlangsung namun belum tentu memiliki pemahaman yang mendalam terhadap konsep yang dipelajari.
Lebih jauh lagi, jangan sampai publikasi nilai TKA yang marak saat ini terjadi secara tidak sadar mendorong sekolah untuk berlomba-lomba menghalalkan berbagai cara demi memperoleh skor yang tinggi. Bukan dalam arti melakukan pelanggaran, melainkan mengorbankan esensi pembelajaran itu sendiri.
Waktu belajar yang seharusnya digunakan untuk berdiskusi, bereksplorasi, mengembangkan kreativitas, dan melatih kemampuan bernalar dapat tergeser oleh aktivitas yang semata-mata bertujuan meningkatkan performa saat tes. Seperti ketika proses pembelajaran semester 1 dan 2 yang hanya berfokus pada bedah kisi-kisi dan latihan soal TKA saja, yang pada akhirnya mengabaikan Capaian Pembelajaran serta Tujuan Pembelajaran yang menjadi kewajiban utama. Jika kondisi ini terjadi, maka pendidikan sedang bergerak menjauh dari tujuan utamanya.
Padahal hakikat pendidikan tidak pernah berhenti pada angka. Pendidikan adalah proses memanusiakan manusia. Tugas guru bukan sekadar mengajarkan materi atau memastikan murid mampu menjawab soal dengan benar.
Guru memiliki tanggung jawab yang jauh lebih mulia, yakni membantu murid menajamkan pikirannya dan memperhalus perilakunya. Di ruang kelas, guru membimbing murid untuk berpikir logis, bersikap bijaksana, memiliki rasa ingin tahu, serta mampu mengambil keputusan secara bertanggung jawab. Inilah esensi pendidikan yang sesungguhnya.
Baca Juga : Anak Susah Fokus dan Cepat Lupa? Bisa Jadi Tanda Brainrot
Pandangan tersebut sejalan dengan arah kebijakan Pembelajaran Mendalam yang diperkuat melalui BSKAP Nomor 46 Tahun 2025. Pembelajaran mendalam menempatkan pemahaman sebagai tujuan utama. Murid tidak hanya dituntut mengetahui suatu konsep, tetapi juga memahami maknanya, menghubungkannya dengan kehidupan nyata, serta mampu menggunakannya untuk memecahkan berbagai persoalan yang dihadapi.
Dalam pembelajaran mendalam, keberhasilan tidak dibangun dalam waktu singkat. Ia lahir dari proses yang terencana, sistematis, dan berkesinambungan. Guru merancang pengalaman belajar yang menantang kemampuan berpikir kritis. Murid diberi ruang untuk bertanya, menyelidiki, mengemukakan pendapat, berdiskusi, merefleksi, dan membangun pengetahuan secara aktif. Dengan cara seperti inilah pemahaman yang bertahan lama dapat terbentuk.
Karena itu, hasil TKA semestinya dipandang sebagai salah satu cermin untuk melakukan evaluasi, bukan sebagai tujuan akhir pendidikan. Angka yang diperoleh murid perlu dibaca sebagai informasi untuk memperbaiki proses pembelajaran yang masih lemah. Jika capaian rerata TKA Matematika jenjang SD di Indonesia misalnya, masih berada di bawah Bahasa Indonesia, maka fokus perbaikannya bukan sekadar menambah latihan soal menjelang asesmen berikutnya.
Hal yang lebih penting adalah membenahi kualitas pembelajaran matematika sejak awal, memperkuat pemahaman konsep dan membangun budaya bernalar di dalam kelas.
Sesungguhnya sekolah yang hebat bukanlah sekolah yang hanya mampu menghasilkan nilai tinggi pada satu momentum asesmen. Sekolah yang hebat adalah sekolah yang memiliki sistem pembelajaran yang sehat, konsisten, dan berkualitas sehingga mampu menumbuhkan pemahaman jangka panjang pada diri murid. Nilai yang baik kemudian hadir sebagai konsekuensi logis dari proses yang baik, bukan sebagai tujuan yang dikejar dengan segala cara.
Pada akhirnya, pertanyaan yang perlu terus kita ajukan bukanlah berapa banyak murid yang memperoleh skor tertinggi, melainkan seperti apa kualitas manusia yang sedang kita bentuk melalui pendidikan. Sebab bangsa ini tidak hanya membutuhkan generasi yang mahir menjawab soal, tetapi generasi yang mampu berpikir kritis, bernalar mendalam, berkarakter kuat, dan mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan yang terus berubah.
Jika pendidikan hanya berfokus pada angka mungkin kita akan menghasilkan banyak murid yang sukses menghadapi tes. Namun jika pendidikan berfokus pada kualitas pembelajaran, kita akan menghasilkan generasi pembelajar yang mampu menghadapi kehidupan. Dan di antara keduanya, pilihan itulah yang seharusnya menjadi arah perjalanan pendidikan kita.
Oleh karena itu, momentum hasil TKA semestinya menjadi pengingat bagi seluruh pemangku kepentingan pendidikan bahwa kualitas pendidikan tidak dibangun dari hasil yang instan. Ia tumbuh dari proses yang dirancang dengan baik, dilaksanakan secara konsisten, dan berpusat pada upaya memanusiakan manusia. Sebab pada akhirnya, pendidikan yang baik bukan hanya melahirkan murid yang pandai menjawab soal, tetapi juga manusia yang mampu berpikir jernih, bersikap arif, dan terus belajar sepanjang hayat.*
Penulis :
Dr. Herwulan Irine Purnama, M.Pd, Kepala Sekolah SDN 35 Pontianak Selatan
