BERIKABARNEWS l PONTIANAK – Wakil Wali Kota Pontianak Bahasan mengajak penyuluh agama dan seluruh masyarakat memperkuat toleransi serta kerukunan untuk menjaga keharmonisan di tengah keberagaman Kota Pontianak.
Bahasan mengingatkan masyarakat agar tidak mengedepankan ego agama maupun suku yang dapat memicu perpecahan. Sebaliknya, setiap warga diharapkan menunjukkan sikap terbaik dalam kehidupan bermasyarakat.
“Kita sudah saatnya tidak ada yang namanya ego agama dan ego suku. Selaku orang beragama dan bersuku bangsa, kita dituntut untuk terus berlomba menunjukkan perilaku terbaik dalam kehidupan sehari-hari,” kata Bahasan saat membuka Dialog Kebangsaan melalui Semangat Lintas Agama di Aula Rumah Dinas Wakil Wali Kota Pontianak, Rabu (26/8/2026).

Baca Juga : Kualitas Udara Pontianak Tidak Sehat, Wali Kota Imbau Warga Pakai Masker
Bahasan berharap penyuluh agama berperan aktif menyampaikan pesan toleransi kepada masyarakat. Menurutnya, penyuluh memiliki jaringan yang luas hingga ke berbagai majelis dan komunitas warga.
Ia meminta para penyuluh tidak hanya menyampaikan pesan keagamaan, tetapi juga mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya kerukunan dan menyosialisasikan program pemerintah yang berdampak langsung kepada warga.
“Saya berharap besar kepada para penyuluh agama. Jika hadir ke majelis, tolong sampaikan edukasi dan sosialisasikan pesan-pesan toleransi serta program pemerintah yang berdampak kepada masyarakat,” ujarnya.
Bahasan menegaskan setiap umat beragama berhak meyakini ajaran agamanya sebagai yang terbaik. Namun, keyakinan tersebut harus tetap disertai sikap menghormati pemeluk agama lain.
“Agama yang kita peluk adalah yang terbaik menurut pemeluknya masing-masing, tetapi tidak dengan menjelek-jelekkan atau menghina agama orang lain,” jelasnya.
Baca Juga : 18 Ruko Terbakar di Pontianak, Wako Edi Ingatkan Risiko Bangunan Runtuh
Menurut Bahasan, keberagaman suku dan agama merupakan bagian dari kehidupan masyarakat Kota Pontianak. Karena itu, edukasi tentang toleransi harus terus diperkuat, terutama kepada generasi muda.
Ia mencontohkan keberadaan rumah ibadah yang berdiri berdampingan sebagai salah satu gambaran toleransi di Pontianak.
“Di Pontianak Barat, ada gereja dan masjid yang hanya berbatasan dengan satu pagar. Sampai hari ini belum pernah terjadi konflik. Ini menandakan bahwa Kota Pontianak termasuk kota toleran,” katanya.
Bahasan juga mengingatkan bahwa toleransi tidak hanya berlaku antarumat beragama. Sikap saling menghormati juga diperlukan di antara sesama pemeluk agama, termasuk dalam menghadapi perbedaan pandangan, aliran, maupun cara beribadah.
“Toleransi itu ada dua, toleransi di antara umat seagama dan toleransi di antara umat beragama. Ini juga harus dipahami dan diedukasi,” jelasnya.
Ia mengajak masyarakat membangun toleransi mulai dari lingkungan keluarga. Menurutnya, keluarga yang harmonis menjadi dasar untuk menciptakan kerukunan di masyarakat, antarumat beragama, hingga kehidupan berbangsa.
“Toleransi harus dimulai dari keluarga, masyarakat, lintas agama, hingga kebangsaan,” kata Bahasan.*
