BERIKABARNEWS l PONTIANAK – Jarak pandang yang menurun akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mengganggu operasional penerbangan di sejumlah bandara di Kalimantan Barat (Kalbar).
Kondisi tersebut membuat sejumlah penerbangan mengalami keterlambatan hingga pembatalan. Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara memastikan penyesuaian operasional dilakukan dengan mengutamakan keselamatan penerbangan.
Direktur Jenderal Perhubungan Udara Lukman F. Laisa mengatakan, jarak pandang menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan apakah penerbangan dapat beroperasi.
“Perubahan kondisi cuaca dan jarak pandang dapat terjadi secara dinamis,” ujar Lukman.
Berdasarkan pemantauan Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah I Kelas Utama pada 21 September 2026, kabut asap karhutla berdampak langsung terhadap kondisi penerbangan di sejumlah bandara Kalbar.
Di Bandara Supadio Pontianak, sejumlah penerbangan mengalami keterlambatan antara 42 hingga 195 menit. Beberapa penerbangan juga dibatalkan karena jarak pandang yang terbatas.
Pada pukul 21.30 WIB, Bandara Supadio masih berstatus open dengan jarak pandang sekitar 1.100 meter.
Sementara itu, Bandara Rahadi Oesman Ketapang mengalami keterlambatan penerbangan yang dipicu faktor cuaca buruk.
Di Bandara Singkawang, beberapa penerbangan dibatalkan karena alasan operasional. Bandara tersebut tetap berstatus open dengan jarak pandang mencapai 1.000 meter.
Kondisi serupa juga dipantau di Bandara Tebelian Sintang dan Bandara Pangsuma Putussibau. Kedua bandara berstatus open dengan jarak pandang masing-masing sekitar 700 meter.
Saat pemantauan dilakukan, tidak terdapat aktivitas penerbangan yang dijadwalkan di kedua bandara tersebut.
Baca Juga : Wagub Krisantus Dorong SPAM Regional Atasi Krisis Air Payau di Kalbar
Gangguan akibat penurunan jarak pandang dan asap karhutla tidak hanya terjadi di Kalbar. Sejumlah wilayah lain di Pulau Kalimantan juga mengalami gangguan penerbangan.
Data Otoritas Bandar Udara Wilayah VII Balikpapan untuk periode 14-20 September 2026 mencatat 409 penerbangan terdampak. Angka tersebut meningkat dibandingkan periode 7-13 September 2026 yang mencatat 159 penerbangan terdampak.
Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan jumlah penerbangan terdampak terbanyak, yakni 201 penerbangan. Rinciannya terdiri dari 79 delay, 121 cancelled/postponed, dan satu divert.
Selanjutnya, Kalimantan Timur mencatat 138 penerbangan terdampak, terdiri dari 48 delay, 77 cancelled/postponed, dan 13 divert.
Sementara itu, Kalimantan Utara mencatat 70 penerbangan terdampak, dengan rincian 14 delay dan 56 cancelled/postponed.
Penurunan jarak pandang bahkan mencapai kondisi ekstrem di sejumlah bandara. Di Bandara Tjilik Riwut, Bandara Iskandar, Bandara Haji Muhammad Sidik, dan Bandara A.P.T. Pranoto, jarak pandang terendah sempat mencapai 50 meter.
Baca Juga : Gubernur Ria Norsan Tekankan Solidaritas Tangani Karhutla
Kemenhub meminta maskapai tetap memenuhi hak calon penumpang yang terdampak penundaan maupun pembatalan penerbangan.
Hak penumpang tersebut mencakup kompensasi sesuai regulasi, penjadwalan ulang atau reschedule, serta pengembalian biaya tiket secara penuh atau full refund sesuai ketentuan yang berlaku.
Di sisi lain, Ditjen Perhubungan Udara terus mengevaluasi kondisi operasional penerbangan bersama para pemangku kepentingan.
Koordinasi juga dilakukan untuk mendukung penanganan karhutla dari udara, termasuk pengaturan alur navigasi bagi penerbangan patroli udara dan operasi pemboman air atau water bombing.
Lukman mengimbau masyarakat untuk memantau informasi terbaru dari maskapai dan bandar udara sebelum berangkat.
“Kami mengimbau masyarakat untuk terus memantau informasi penerbangan dari maskapai dan bandar udara sebelum berangkat. Perubahan kondisi cuaca dan jarak pandang dapat terjadi secara dinamis,” ujarnya.*
