BERIKABARNEWS l – Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan Teheran telah menyampaikan tanggapan atas proposal AS melalui mediator. Namun, masih ada sejumlah poin tambahan yang perlu dikomunikasikan kembali kepada Washington.
Menurut Baghaei, tawaran AS masih mencerminkan posisi lama, terutama menyangkut persoalan nuklir. Iran menegaskan bahwa prioritas pembahasan saat ini adalah memulihkan keamanan dan kelancaran pelayaran di Selat Hormuz.
Teheran juga membantah kabar bahwa pihaknya menawarkan izin inspeksi fasilitas nuklir kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai imbalan atas pelonggaran sanksi ekonomi AS.
Dalam dokumen kerja sama tersebut, kedua negara merancang masa pembentukan kepercayaan selama tujuh hari. Perbedaan pandangan yang masih terjadi disebut lebih berkaitan dengan urutan pelaksanaan tahapan atau sequencing, bukan substansi rencana kerja sama.
Iran menilai pemulihan keamanan Selat Hormuz membutuhkan langkah konkret dan kejelasan komitmen dari pihak AS.
Baca Juga : Iran Kembali Ancam Infrastruktur Kawasan di Tengah Krisis Selat Hormuz
Di tengah proses diplomasi yang dimediasi Qatar, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi kembali menegaskan kesiapan negaranya menghadapi kemungkinan serangan militer AS.
Pernyataan tersebut disampaikan Araqchi saat bertemu dengan para diplomat dan duta besar asing di Teheran, Minggu (4/10/2026). Ia menyebut Iran tetap mengutamakan jalur diplomasi, tetapi tidak akan tinggal diam jika Washington kembali memilih opsi militer.
“Jika mereka kembali bergerak ke arah solusi militer, kami jauh lebih siap dari sebelumnya dan akan mengambil tindakan apa pun yang diperlukan untuk membela diri,” tegas Araqchi.
Baca Juga : Ledakan di Athena Tewaskan Enam Orang, Empat Wisatawan AS
Sementara itu, Juru Bicara Angkatan Darat Iran Mohammad Akraminia mengonfirmasi rencana peningkatan jangkauan rudal milik negaranya.
Iran juga menyatakan telah menyiapkan respons yang lebih luas dan kuat apabila kembali menghadapi serangan militer berskala besar.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis bagi perdagangan energi dunia. Sebelum konflik bersenjata pecah pada akhir Februari lalu, jalur tersebut dilintasi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) global.
Ketegangan di kawasan itu pun menjadi perhatian dunia karena berpotensi mengganggu distribusi energi internasional. Di tengah situasi tersebut, pembicaraan diplomatik antara Iran dan AS masih menghadapi perbedaan, sementara Teheran tetap bersikukuh bahwa pembukaan Selat Hormuz bergantung pada pemenuhan tujuh syarat yang diajukannya.*
