Anak Susah Fokus dan Cepat Lupa? Bisa Jadi Tanda Brainrot

Dr. Herwulan Irine Purnama, M.Pd, Kepala Sekolah SDN 35 Pontianak Selatan memberikan pandangan tentang fenomena brainrot pada anak.

BERIKABARNEWS l PONTIANAK – Belakangan ini banyak guru dan bahkan orang tua yang mengeluh, “Kenapa anak saya cepat sekali lupa pelajaran?” atau “Baru saya di jelaskan sebentar saja sudah lupa.” Fenomena ini dalam istilah populer disebut brainrot. Istilah ini dipakai anak-anak muda untuk menggambarkan kondisi otak yang seperti “lemot” atau “membusuk” karena terlalu sering disuguhi tontonan atau informasi singkat yang datang bertubi-tubi, terutama dari media sosial dan video pendek. Akibatnya, anak lebih mudah mengingat potongan video berdurasi 10 detik daripada materi pelajaran sekolah yang membutuhkan konsentrasi lebih lama. Kondisi ini membuat mereka cepat lupa, sulit fokus, dan sering merasa tidak mampu belajar.

Dampak dari brainrot pada anak sebenarnya cukup serius. Mereka menjadi sulit berkonsentrasi dalam waktu lama. Anak terbiasa berpindah dari satu tontonan ke tontonan lain sehingga tidak betah membaca atau mendengarkan penjelasan guru lebih dari beberapa menit. Informasi yang diterima tidak sempat masuk ke ingatan jangka panjang, sehingga mudah menguap. Biasanya anak mungkin bisa menjawab pertanyaan cepat saat di kelas, tetapi sehari kemudian sudah lupa. Selain itu, mereka juga kehilangan kemampuan untuk berpikir mendalam. Anak tahu kata kunci atau istilah, tetapi tidak bisa menjelaskan maksudnya. Akhirnya, mereka tampak paham di awal, namun bingung saat harus mengerjakan soal uraian. Tidak jarang, kondisi ini membuat anak merasa cemas dan minder. Karena sering lupa, mereka menganggap dirinya bodoh, padahal masalahnya bukan terletak pada kepintaran, melainkan pada cara belajar dan kebiasaan sehari-hari yang kurang tepat.

Fenomena brainrot bisa terjadi karena beberapa penyebab. Salah satunya adalah penggunaan ponsel dan media sosial yang berlebihan. Otak anak terus dibanjiri informasi singkat sehingga terbiasa dengan hal-hal instan dan kehilangan kesabaran untuk belajar hal yang lebih panjang. Selain itu, setiap kali membuka gawai, anak mendapat rasa senang instan dari notifikasi, komentar, atau video baru. Rasa senang ini membuat otak mereka ketagihan hal-hal cepat dan singkat, lalu kehilangan kemampuan untuk menikmati proses belajar yang membutuhkan waktu. Daya ingat juga semakin melemah karena kurangnya latihan. Ingatan sama seperti otot: semakin sering dipakai, semakin kuat. Anak yang jarang membaca, jarang menghafal, atau jarang menulis, tentu daya ingatnya akan menurun. Lingkungan belajar yang tidak mendukung juga menjadi penyebab lain. Jika di sekolah maupun di rumah anak hanya dipaksa menghafal tanpa diajak memahami dan menghubungkan dengan kehidupan sehari-hari, maka pelajaran mudah dilupakan.

Meski begitu, ada banyak cara sederhana yang bisa dilakukan guru maupun orang tua untuk membantu anak melawan efek brainrot. Salah satunya adalah melatih anak fokus secara bertahap. Misalnya, ajak mereka belajar serius selama 20 menit, lalu istirahat sebentar, dan lanjut lagi. Cara ini membuat mereka terbiasa memiliki perhatian yang lebih panjang (Cepeda et al., 2006). Orang tua juga bisa membiasakan anak membaca cerita atau artikel agak panjang, kemudian diminta menceritakan kembali dengan bahasanya sendiri. Aktivitas sederhana ini sangat efektif untuk melatih ingatan jangka panjang. Selain itu, belajar sebaiknya dilakukan dengan melibatkan banyak indera. Anak tidak hanya mendengar penjelasan guru, tetapi juga membaca, menulis, menggambar, atau berdiskusi. Jika banyak indera digunakan, pelajaran akan lebih mudah diingat.

Menghafal juga sebaiknya dilakukan sedikit demi sedikit tetapi rutin. Anak tidak perlu dipaksa menghafal banyak dalam satu malam karena hasilnya hanya akan sementara. Lebih baik mereka menghafal sedikit, tetapi diulang setiap hari, sehingga ingatan tertanam lebih kuat. Di rumah, orang tua bisa membuat aturan jam tertentu tanpa ponsel, misalnya satu hingga dua jam pada malam hari sebelum tidur. Waktu ini bisa digunakan untuk membaca buku atau mengulang pelajaran. Mengaitkan pelajaran dengan kehidupan sehari-hari juga sangat membantu. Anak akan lebih mudah mengingat jika materi terasa nyata dalam hidupnya. Misalnya, ketika belajar tentang gizi, hubungkan dengan menu makanan yang mereka makan sehari-hari di rumah.

Baca Juga : RSUD SSMA Edukasi Deteksi Dini Gangguan Bahasa dan Bicara pada Anak

Fenomena brainrot bukanlah kesalahan anak semata. Hal ini merupakan tantangan zaman yang harus kita hadapi bersama. Guru perlu menyesuaikan cara mengajar agar lebih menyenangkan dan bermakna, sementara orang tua harus mendampingi anak dalam mengatur penggunaan gawai di rumah. Point terpentingnya adalah jangan terburu-buru menilai anak bodoh atau malas. Ingatan yang melemah tidak berarti otaknya rusak. Anak hanya butuh latihan ulang dengan cara yang tepat dan konsisten. Dengan dukungan bersama antara guru, orang tua, dan lingkungan sekitar, anak-anak kita akan mampu keluar dari jebakan brainrot, kembali memiliki daya ingat yang tajam, dan siap menghadapi masa depan dengan percaya diri.

Namun, perlu disadari bahwa sebaik apa pun guru meramu pembelajaran yang efektif dan menyenangkan di sekolah, dampaknya tidak akan optimal bila di rumah orang tua membiarkan anak larut dalam kebiasaan brainrot. Upaya pendidikan akan jauh lebih berhasil apabila sekolah dan keluarga berjalan seiring: guru menciptakan pengalaman belajar yang bermakna, sementara orang tua menegakkan pendampingan dan batasan sehat dalam penggunaan gawai. Dengan sinergi ini, anak-anak tidak hanya terlindungi dari dampak buruk brainrot, tetapi juga tumbuh dengan fokus, ingatan yang kuat, dan semangat belajar yang berkelanjutan. (HIP)

 

Penulis :

Dr. Herwulan Irine Purnama, M.Pd, Kepala Sekolah SDN 35 Pontianak Selatan

 

berita terkini