BERIKABARNEWS l – Ancaman keamanan digital di Indonesia kian memasuki fase yang lebih kompleks seiring pesatnya perkembangan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI). Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengingatkan, di era AI saat ini nyaris tidak ada lagi ruang yang benar-benar aman di dunia digital.
Peringatan tersebut disampaikan Nezar saat menjadi narasumber dalam Workshop Cybersecurity yang digelar di Balai Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Penelitian (BPSDMP) Komdigi Yogyakarta, Sabtu (31/1/2026). Ia menegaskan bahwa serangan siber kini tidak hanya menyasar sistem, tetapi langsung mengincar aspek paling privat masyarakat, mulai dari identitas pribadi hingga rekening keuangan.
Nezar menjelaskan, salah satu ancaman yang paling berbahaya saat ini adalah fenomena zero click attack. Berbeda dengan modus lama seperti phishing yang mengandalkan kelalaian korban mengklik tautan, serangan ini dapat bekerja hanya dengan menerima pesan masuk.
“Sekarang pengguna tidak perlu mengklik apa pun. Begitu pesan diterima, malware bisa langsung aktif. Dengan bantuan AI, serangan dapat berlangsung cepat, otomatis, dan dalam skala besar,” ungkap Nezar.
Ia menambahkan, teknologi AI memungkinkan pelaku kejahatan siber memindai jutaan sistem dalam waktu singkat untuk menemukan celah keamanan, lalu memilih target yang dinilai memiliki nilai ekonomi tinggi.
Selain serangan teknis, Nezar juga menyoroti ancaman manipulasi psikologis melalui teknologi deepfake. AI kini mampu meniru wajah dan suara seseorang dengan tingkat kemiripan yang sangat tinggi, sehingga membuat penipuan terasa personal dan meyakinkan.
“Banyak korban tertipu karena merasa berkomunikasi dengan orang yang mereka kenal. Padahal, wajah dan suara tersebut telah dimanipulasi,” jelasnya.
Wamenkomdigi turut mengingatkan bahwa sistem perlindungan konvensional, seperti penggunaan kata sandi, perlahan mulai kehilangan relevansinya. Perkembangan AI dan riset komputasi kuantum diprediksi akan semakin melemahkan sistem keamanan tradisional.
“Kita sedang menuju era pasca-kuantum. Selama perangkat dan aplikasi saling terhubung, tidak ada ruang yang sepenuhnya aman,” tegas Nezar.
Baca Juga : Wamenkomdigi: Infrastruktur Komputasi Jadi Kunci Daya Saing AI Indonesia
Penerapan ‘Security by Design’
Menghadapi tantangan tersebut, Kemkomdigi mendorong penerapan pendekatan security by design. Keamanan harus menjadi fondasi sejak awal pengembangan sistem, bukan sekadar pelengkap di tahap akhir.
Menurut Nezar, perlindungan ruang digital hanya dapat terwujud melalui sinergi teknologi yang andal, kepemimpinan kebijakan yang kuat, serta literasi dan kebiasaan aman dari masyarakat.
“Keamanan siber bukan hanya soal teknologi, tetapi juga soal kesadaran, kebiasaan, dan kepemimpinan,” pungkasnya.
Sebagai langkah sederhana, masyarakat diimbau rutin memperbarui sistem operasi perangkat, mengaktifkan pengamanan berlapis, serta tetap kritis terhadap setiap pesan digital yang diterima. *
Sumber :
Komdigi
