BERIKABARNEWS l JAKARTA – Sejumlah bandara utama di kawasan Asia meningkatkan status kewaspadaan menyusul munculnya kasus virus Nipah di India. Otoritas penerbangan di berbagai negara mulai menerapkan langkah darurat untuk mencegah masuk dan menyebarnya virus mematikan tersebut melalui jalur perjalanan internasional.
Pengetatan pengawasan dilakukan melalui pemeriksaan suhu tubuh terhadap penumpang internasional, khususnya mereka yang datang dari wilayah terdampak di India. Langkah ini telah diterapkan di Singapura, Thailand, dan Malaysia setelah dua kasus virus Nipah dilaporkan pada akhir Desember lalu.
Pemerintah India sebelumnya menyatakan bahwa kasus yang ditemukan di negara bagian Benggala Barat telah berhasil diisolasi. Meski demikian, negara-negara di kawasan tetap memilih bersikap waspada. Nepal dan Hong Kong, misalnya, mempertahankan protokol pengawasan ketat di pintu masuk negara guna mengantisipasi potensi penyebaran lintas batas.
Di Singapura, Badan Penyakit Menular mengonfirmasi pemeriksaan suhu tubuh wajib bagi seluruh penumpang yang tiba dari wilayah berisiko di India. Pengawasan terhadap pekerja migran dari Asia Selatan juga diperketat sebagai langkah pencegahan tambahan.
Thailand menerapkan kewajiban pengisian deklarasi kesehatan bagi penumpang dari area berisiko sebelum melewati proses imigrasi, sementara Nepal menetapkan status siaga tinggi dengan memperketat pemeriksaan di seluruh perlintasan internasional.
Virus Nipah dikenal sebagai penyakit zoonosis yang dapat menular dari hewan ke manusia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut penularan dapat terjadi melalui kontak langsung dengan cairan tubuh penderita maupun konsumsi makanan yang terkontaminasi.
Kelelawar buah merupakan inang alami virus ini, sementara babi dapat berperan sebagai inang perantara sebelum menularkannya ke manusia.
Infeksi virus Nipah pada manusia berisiko tinggi karena dapat menyerang sistem saraf pusat. Gejalanya bervariasi, mulai dari demam dan sakit kepala hingga gangguan pernapasan akut serta peradangan otak atau ensefalitis.
Dalam sejumlah kasus, penderita dapat mengalami penurunan kesadaran hingga gangguan neurologis berat.
Baca Juga : WHO: Risiko Virus Nipah Rendah, Tak Perlu Pembatasan Perjalanan
WHO mencatat tingkat kematian akibat virus Nipah berada pada kisaran 40 hingga 75 persen, tergantung kesiapan layanan kesehatan dan kecepatan penanganan.
Dalam kasus terbaru di India, otoritas setempat berhasil melacak hampir 200 kontak erat dan seluruhnya dinyatakan negatif, sehingga membantu menekan potensi penyebaran lebih luas.
Hingga kini, belum tersedia obat maupun vaksin yang terbukti efektif secara klinis untuk virus Nipah. Penanganan medis masih berfokus pada perawatan intensif untuk mengatasi gangguan pernapasan dan neurologis.
Otoritas kesehatan internasional mengimbau pelaku perjalanan untuk menjaga kebersihan diri, menghindari kontak dengan hewan liar atau hewan sakit, serta memastikan konsumsi makanan yang higienis.
Pemerintah Indonesia turut memantau perkembangan situasi secara intensif guna memastikan kesiapsiagaan di pintu masuk internasional. Masyarakat diimbau tetap tenang, namun waspada, serta mengikuti informasi resmi dari otoritas kesehatan. *
