BERIKABARNEWS l PONTIANAK – Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menegaskan bahwa keluarga memiliki peran penting dalam menciptakan aparatur sipil negara (ASN) yang berintegritas. Menurutnya, lingkungan keluarga menjadi benteng utama dalam mencegah penyimpangan serta menjaga komitmen ASN untuk memberikan pelayanan publik yang bersih, profesional, dan bebas korupsi.
Pernyataan tersebut disampaikan Edi saat membuka Bimbingan Teknis (Bimtek) Sosialisasi Keluarga Berintegritas yang diikuti camat, lurah, kepala subbagian perencanaan dan keuangan kecamatan, bendahara kecamatan, beserta pasangan masing-masing di Hotel Ibis Pontianak, Kamis (30/7/2026).
Edi menegaskan, kegiatan tersebut tidak hanya bertujuan memenuhi indikator penilaian program pencegahan korupsi dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), tetapi harus mampu membangun budaya integritas yang dimulai dari lingkungan keluarga hingga tempat kerja.
“Kegiatan ini bukan sekadar untuk memenuhi penilaian program pencegahan korupsi dari KPK. Yang paling penting adalah bagaimana kegiatan ini benar-benar memberikan dampak terhadap diri kita, keluarga, dan lingkungan kerja,” ujarnya.
Baca Juga : TP PKK Pontianak Pertahankan Juara Umum HKG PKK Kalbar 2026
Menurut Edi, tuntutan masyarakat terhadap pelayanan publik yang berkualitas terus meningkat seiring perkembangan teknologi dan era digital. Karena itu, setiap ASN harus menjaga integritas agar kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah tetap terpelihara.
Ia mengingatkan berbagai kasus operasi tangkap tangan (OTT) maupun pelanggaran hukum yang terjadi di sejumlah daerah harus menjadi pelajaran agar aparatur tidak tergoda menyalahgunakan kewenangan.
“Integritas bukan hanya benteng untuk menolak godaan, tetapi harus menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari saat melayani masyarakat,” katanya.
Edi menilai penyimpangan sering kali tidak diawali dengan niat buruk, melainkan muncul akibat perubahan tujuan hidup yang dipengaruhi lingkungan, tekanan ekonomi, maupun godaan dalam pekerjaan. Oleh karena itu, ia mengajak seluruh ASN kembali mengingat tujuan awal mengabdi sebagai pelayan masyarakat.
“Niat kita saat pertama bekerja tentu ingin memberikan yang terbaik dan memperoleh penghasilan yang halal untuk keluarga. Jangan sampai dalam perjalanan, niat itu berubah karena berbagai godaan,” pesannya.

Baca Juga : Amirullah Tekankan Etika dan Integritas Fondasi Utama Kepemimpinan ASN
Selain menanamkan integritas, Edi juga mengingatkan pentingnya mengelola keuangan keluarga secara bijak. Menurutnya, komunikasi yang baik antara suami dan istri dapat membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga tanpa harus mencari jalan pintas yang melanggar aturan.
Ia juga mengimbau ASN agar tidak mudah tergoda berbagai tawaran keuntungan instan, seperti judi online, investasi ilegal, maupun pinjaman yang tidak terkendali.
“Kalau ingin menambah penghasilan, lakukan dengan cara yang benar, sesuai aturan, melalui usaha yang halal dan penuh perhitungan. Jangan tergoda cara-cara instan karena risikonya jauh lebih besar,” tegasnya.
Edi menambahkan, setiap keputusan yang diambil ASN tidak hanya berdampak pada diri sendiri, tetapi juga keluarga. Karena itu, dukungan pasangan dan anggota keluarga menjadi faktor penting dalam menjaga integritas selama menjalankan tugas sebagai pelayan masyarakat.
Ia berharap seluruh peserta mampu menerapkan nilai-nilai yang diperoleh selama bimtek sehingga dapat memperkuat budaya pemerintahan yang bersih, transparan, dan melayani di lingkungan Pemerintah Kota Pontianak.
Baca Juga : MTQ di Kayong Utara, Kafilah Pontianak Bidik Gelar Juara Umum
Sementara itu, Inspektur Kota Pontianak Trisnawati menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari dukungan Pemerintah Kota Pontianak terhadap Aksi Pencegahan Korupsi yang diinisiasi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Bimtek diikuti 47 peserta utama yang terdiri atas camat, lurah, kepala subbagian perencanaan dan keuangan, bendahara kecamatan, beserta pasangan atau anggota keluarga. Total peserta yang mengikuti kegiatan mencapai 94 orang.
“Kami berharap nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, disiplin, kesederhanaan, kepedulian, dan keberanian tumbuh dari lingkungan keluarga. Dengan begitu, keluarga menjadi benteng moral bagi ASN dalam menjalankan tugasnya,” ungkap Trisnawati.
Ia menjelaskan, kecamatan dan kelurahan merupakan unit pelayanan yang paling dekat dengan masyarakat. Karena itu, penguatan integritas aparatur di tingkat tersebut diyakini akan berdampak langsung terhadap peningkatan kualitas pelayanan publik.
Menurut Trisnawati, Inspektorat tidak hanya menjalankan fungsi pengawasan, tetapi juga menjadi mitra konsultasi bagi seluruh perangkat daerah agar tata kelola pemerintahan berjalan sesuai ketentuan dan mampu meminimalkan potensi pelanggaran.
“Kami ingin integritas tidak berhenti sebagai slogan, tetapi menjadi budaya yang tumbuh di lingkungan kerja maupun di keluarga, sehingga dapat diwariskan kepada generasi berikutnya,” pungkasnya.*
