BERIKABARNEWS l PONTIANAK – Kasus diare pada anak di Kota Pontianak mengalami peningkatan. Data RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie mencatat 40 kasus diare pada kelompok anak selama periode 1-14 September 2026.
Kondisi tersebut menjadi perhatian sehingga edukasi mengenai diare pada anak terus dilakukan. Orang tua perlu memahami penyebab, gejala, hingga cara penanganan yang tepat agar risiko dehidrasi dapat dicegah.
Perawat RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie, Afrilia, menjelaskan diare atau mencret merupakan kondisi ketika seseorang buang air besar dengan konsistensi lembek atau cair, bahkan hanya berupa air, dengan frekuensi tiga kali atau lebih dalam sehari.
“Diare dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Beberapa penyebab yang umum antara lain virus, kuman atau bakteri, parasit, serta ketidakcocokan terhadap susu yang biasanya terjadi pada bayi,” ujar Afrilia saat memberikan edukasi, Kamis (17/9/2026).
Baca Juga : Waspada Diare Saat Kabut Asap, Jangan Abaikan PHBS
Menurut Afrilia, risiko diare pada anak dapat meningkat akibat kebiasaan sehari-hari serta kondisi lingkungan yang tidak bersih.
Kebiasaan makan tanpa mencuci tangan dengan bersih, mengonsumsi air mentah, dan mengonsumsi makanan yang dihinggapi lalat dapat meningkatkan risiko diare.
Lingkungan rumah yang kumuh dan kotor juga perlu diwaspadai karena dapat menjadi salah satu faktor yang memicu gangguan pencernaan.
Orang tua juga perlu memperhatikan pemberian makanan tambahan selain ASI pada bayi. Pemberian makanan tambahan terlalu dini dapat meningkatkan risiko gangguan pencernaan.
Diare pada anak dapat disertai sejumlah gejala. Di antaranya perut terasa mulas, tinja encer dan terkadang disertai darah, pusing, lemas, kulit kering, serta peningkatan suhu tubuh.
Kehilangan cairan dalam jumlah banyak menjadi salah satu kondisi yang perlu diwaspadai. Diare yang tidak segera ditangani dapat menyebabkan dehidrasi.
Pada kondisi berat, dehidrasi dapat menyebabkan penurunan kesadaran dan berisiko mengancam nyawa.
Karena itu, orang tua perlu mengenali tanda-tanda dehidrasi dan segera mencari pertolongan medis apabila kondisi anak memburuk.
Baca Juga : Cegah Penularan TBC dengan Deteksi Dini dan Pengobatan Sampai Tuntas
Afrilia mengatakan penggantian cairan menjadi bagian utama dalam penanganan diare. Cairan yang hilang akibat diare perlu segera digantikan untuk mencegah dehidrasi.
Anak dapat diberikan larutan oralit atau larutan gula garam sesuai anjuran. Cairan lain seperti sup dan air putih yang telah dimasak juga dapat diberikan.
Bagi bayi berusia kurang dari enam bulan yang masih mendapatkan ASI, pemberian ASI harus tetap dilanjutkan. ASI dapat diberikan lebih sering, dengan tambahan oralit atau air putih matang sesuai kebutuhan dan anjuran tenaga kesehatan.
Kebutuhan nutrisi anak juga tetap perlu diperhatikan selama mengalami diare. Anak dianjurkan tetap mendapatkan makanan dan minuman sesuai usianya.
Setelah diare berhenti, anak dianjurkan mendapatkan makanan dalam jumlah lebih banyak setiap hari selama sekitar dua minggu. Hal ini dilakukan untuk membantu memenuhi kembali kebutuhan nutrisi anak.
Afrilia mengingatkan orang tua agar tidak memberikan obat-obatan kepada anak selama mengalami diare tanpa anjuran petugas kesehatan.
Orang tua dianjurkan segera membawa anak ke dokter atau puskesmas apabila diare tidak membaik dalam tiga hari atau muncul tanda bahaya lainnya.
Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain tinja keluar sangat sering, muntah berulang, anak sangat haus, tidak mau makan atau minum seperti biasanya, demam, serta terdapat darah dalam tinja.
Anak yang terlihat sangat lemah atau mengalami satu maupun lebih tanda dehidrasi juga perlu segera mendapatkan pertolongan medis.
Edukasi mengenai diare diharapkan dapat meningkatkan pemahaman orang tua dan keluarga dalam mencegah, mengenali gejala, serta memberikan penanganan yang tepat.
“Dengan penanganan yang cepat dan tepat, risiko dehidrasi serta komplikasi akibat diare dapat diminimalkan,” pungkas Afrilia.*
