BERIKABARNEWS l PONTIANAK – Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengajak seluruh elemen masyarakat memperkuat sinergi dan kolaborasi dalam menghadapi berbagai tantangan pembangunan Kota Pontianak yang semakin kompleks. Hal tersebut disampaikan Edi saat menghadiri kegiatan Coffee Morning yang digelar Kesultanan Kadriah Pontianak di Istana Kadriah, Kamis (11/6/2026).
Menurut Edi, Pontianak sebagai ibu kota Provinsi Kalimantan Barat terus berkembang menjadi pusat perdagangan, pendidikan, dan jasa dengan jumlah penduduk berdasarkan data e-KTP yang kini mencapai sekitar 693 ribu jiwa.
Di tengah pertumbuhan tersebut, Kota Pontianak dinilai tetap mampu menjaga kehidupan masyarakat yang harmonis dan toleran meski dihuni berbagai latar belakang suku dan agama.
“Kita perlu sinergisitas dan kolaborasi untuk mengatasi persoalan-persoalan yang setiap hari kita hadapi bersama,” ujarnya.
Edi menjelaskan, pertumbuhan penduduk dan tingginya mobilitas masyarakat turut memunculkan berbagai tantangan perkotaan, mulai dari persoalan sampah, lingkungan, kemacetan lalu lintas, hingga dampak dinamika ekonomi nasional dan global.
Untuk menjawab tantangan itu, Pemerintah Kota Pontianak terus melakukan pembangunan dan peningkatan infrastruktur di berbagai sektor.
Baca Juga : DPRD Balikpapan Pelajari Penataan Pedestrian Pontianak
Beberapa program yang saat ini terus berjalan antara lain pembangunan jalan lingkungan, drainase, pengembangan waterfront, hingga proyek Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik yang mendapat dukungan pemerintah pusat.
Selain itu, Pemkot Pontianak juga menghadapi persoalan kepadatan lalu lintas akibat tingginya jumlah kendaraan yang bahkan telah melampaui jumlah penduduk kota.
Menurut Edi, kondisi tersebut membutuhkan dukungan seluruh pihak untuk mendorong pembangunan infrastruktur strategis yang mampu mengurangi beban lalu lintas di dalam kota.
“Karena itu, diperlukan dukungan berbagai pihak untuk mendorong pengembangan infrastruktur strategis yang dapat mengurangi beban lalu lintas di dalam kota,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Edi juga mengingatkan masyarakat terhadap potensi musim kemarau panjang yang diperkirakan berlangsung mulai Juli hingga September 2026.
Ia menyebut kondisi tersebut berpotensi memicu intrusi air laut ke sumber air baku serta meningkatkan risiko kebakaran lahan yang dapat berdampak terhadap kualitas udara di Kota Pontianak.
Meski menghadapi berbagai tantangan, Edi menyebut sejumlah indikator pembangunan Kota Pontianak menunjukkan capaian positif.
Saat ini, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Pontianak telah mencapai 80,82, angka kemiskinan berada di kisaran 4 persen, dan pertumbuhan ekonomi tetap berada di atas 5 persen.
Kegiatan coffee morning tersebut turut dihadiri unsur Forkopimda, tokoh agama, tokoh masyarakat, organisasi kemasyarakatan, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Baca Juga : Pemkot Pontianak Gelar Sensus Aset, OPD Diminta Tertib Kelola Barang Milik Daerah
Sementara itu, Sultan Pontianak Syarif Melvin Alkadrie mengatakan kegiatan tersebut menjadi ruang dialog untuk mempererat komunikasi antara pemerintah daerah, tokoh masyarakat, tokoh adat, dan aparat keamanan.
Menurutnya, sinergi yang baik menjadi modal penting dalam menjaga keamanan, ketertiban, dan keharmonisan masyarakat di tengah keberagaman Kalimantan Barat.
“Melalui coffee morning ini, kita ingin membangun sinergi antara Kesultanan Pontianak dan pemerintah daerah dalam mengatasi persoalan sosial, penataan lingkungan, infrastruktur, serta menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat,” ujarnya.
Ia juga mengajak masyarakat meneladani nilai persatuan yang diwariskan pendiri Kota Pontianak, Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie, yang dikenal menjunjung tinggi kebersamaan tanpa membedakan suku maupun agama.
Menurut Sultan Melvin, nilai tersebut hingga kini tetap relevan dalam menjaga harmoni sosial di Kota Pontianak dan Kalimantan Barat.**
