BERIKABARNEWS l PHNOM PENH – Sebuah momen bersejarah yang sarat nuansa geopolitik terjadi di pesisir selatan Kamboja. Untuk pertama kalinya sejak Pangkalan Angkatan Laut Ream direnovasi dengan dukungan pendanaan dari China, kapal perang Amerika Serikat (AS) diizinkan berlabuh di fasilitas tersebut.
Kapal tempur pesisir USS Cincinnati (LCS-20) merapat di dermaga Pangkalan Ream, Phnom Penh, dan langsung menyita perhatian internasional. Kehadirannya dinilai signifikan karena kapal perang AS tersebut bersandar hanya sekitar 150 meter dari dua kapal perang milik Angkatan Laut China yang masih berada di lokasi yang sama.
Kunjungan USS Cincinnati dipandang sebagai sinyal diplomatik di tengah hubungan yang selama ini diwarnai kecurigaan antara Washington dan Phnom Penh. Amerika Serikat sebelumnya menaruh kekhawatiran bahwa Pangkalan Ream, yang terletak strategis di Teluk Thailand, akan menjadi fasilitas militer eksklusif bagi China dan memperkuat pengaruh Beijing di kawasan Laut China Selatan.
Komandan USS Cincinnati, Andrew J. Recame, menyampaikan kebanggaannya dapat menjadi kapal AS pertama yang merapat di dermaga baru Pangkalan Ream. Ia berharap kunjungan tersebut dapat membuka babak baru kerja sama maritim antara kedua negara.
“Merupakan suatu kehormatan bagi kami untuk berada di sini. Kami berharap ini menjadi awal tradisi dan persahabatan yang berkelanjutan antara kedua angkatan laut,” ujar Recame kepada awak media.
Baca Juga : Presiden Filipina Marcos Jr Digugat Pemakzulan, Terseret Skandal Proyek Banjir
Komitmen Kamboja terhadap Kebijakan “Pintu Terbuka”
Otoritas Pangkalan Angkatan Laut Ream menegaskan bahwa kunjungan selama lima hari ini merupakan bukti komitmen Kamboja terhadap kebijakan keterbukaan dan transparansi.
Kehadiran kapal AS disebut sebagai upaya mendorong kerja sama internasional sekaligus menepis spekulasi bahwa pangkalan tersebut hanya diperuntukkan bagi kepentingan militer China.
Perdana Menteri Kamboja Hun Manet, yang meresmikan Pangkalan Ream pada April tahun lalu, sebelumnya juga berulang kali membantah tudingan bahwa fasilitas tersebut bersifat eksklusif bagi Beijing.
Ia menegaskan bahwa Kamboja membuka pangkalan militernya bagi negara sahabat sesuai prinsip kerja sama dan kedaulatan nasional.
Meski demikian, kekhawatiran negara-negara Barat tetap mengemuka. Sejak 2019, sejumlah laporan intelijen AS menyebut adanya dugaan kesepakatan rahasia yang memungkinkan China menempatkan aset militernya di Pangkalan Ream.
Renovasi besar-besaran fasilitas di lokasi tersebut juga sebagian besar didanai oleh Beijing, setelah Kamboja sebelumnya menolak bantuan pendanaan dari Amerika Serikat.
Hingga akhir pekan ini, dua kapal perang China masih terpantau bersandar di Pangkalan Ream, menegaskan kuatnya jejak pengaruh Beijing di kawasan tersebut. Namun, kehadiran USS Cincinnati menjadi sinyal bahwa Kamboja berupaya menjaga keseimbangan diplomasi di tengah persaingan kekuatan besar.
Sebagai salah satu sekutu terdekat China di Asia Tenggara, Kamboja terus menerima aliran investasi infrastruktur dari Beijing sejak era kepemimpinan Hun Sen hingga kini dilanjutkan oleh Perdana Menteri Hun Manet. (ing)
Sumber :
AFP
