BERIKABARNEWS l JAKARTA – Indonesia mencatatkan pencapaian strategis di sektor pangan nasional sepanjang 2025. Berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS), produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14 persen mencapai 16,11 juta ton. Angka tersebut meningkat signifikan sebesar 6,44 persen dibandingkan produksi tahun sebelumnya.
Capaian ini membawa dampak positif bagi ketahanan pangan nasional. Dengan total kebutuhan konsumsi domestik sebesar 15,64 juta ton, Indonesia mencatat surplus jagung sekitar 0,47 juta ton pada akhir 2025.
Surplus produksi tersebut tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga memperkuat cadangan pangan nasional. Badan Pangan Nasional (Bapanas) memproyeksikan stok carry over dari tahun 2025 ke 2026 mencapai 4,5 juta ton. Jumlah tersebut dinilai sangat aman karena mampu mencukupi kebutuhan nasional hingga hampir tiga bulan ke depan.
Melimpahnya pasokan jagung domestik mendorong pemerintah mengambil langkah tegas dengan menghentikan seluruh impor jagung pada tahun 2026. Kebijakan ini mencakup jagung untuk pakan ternak, benih, maupun konsumsi rumah tangga.
“Pemerintah sepakat tidak perlu melakukan impor jagung pada 2026, baik untuk pakan, benih, maupun konsumsi,” ujar Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, Senin (5/1/2026).
Optimisme pemerintah semakin kuat seiring proyeksi peningkatan produksi jagung nasional pada 2026 yang diperkirakan mencapai 18 juta ton. Selain menjamin kebutuhan dalam negeri, peningkatan kualitas dan kuantitas produksi ini juga membuka peluang ekspor jagung ke pasar internasional.
Pemerintah memproyeksikan volume ekspor jagung pada 2026 dapat mencapai 52,9 ribu ton tanpa mengganggu stabilitas pasokan nasional. Kebijakan ini diharapkan mampu memberikan nilai tambah bagi petani sekaligus memperkuat posisi Indonesia di pasar global.
Baca Juga : Daftar Libur Nasional dan Cuti Bersama 2026 Resmi Ditetapkan, Total 22 Hari
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, menjelaskan bahwa peningkatan produksi jagung sejalan dengan bertambahnya luas panen nasional. Sepanjang 2025, luas panen jagung tercatat mencapai 2,72 juta hektare atau meningkat 6,73 persen dibandingkan tahun 2024.
Produksi jagung pada November 2025 juga tercatat mencapai 1,03 juta ton, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, potensi produksi pada periode Desember 2025 hingga Februari 2026 diperkirakan mencapai 4,22 juta ton.
Meski terdapat fluktuasi luas panen akibat faktor alam, BPS optimistis tren produksi jagung nasional tetap berada pada level yang stabil dan kuat.
Di sisi lain, pemerintah terus menjaga keseimbangan harga agar produksi melimpah tidak berdampak negatif bagi petani. Perlindungan harga dilakukan melalui penetapan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) sebagaimana diatur dalam Keputusan Kepala Bapanas Nomor 216 Tahun 2025.
Hingga November 2025, program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) jagung telah menyalurkan sebanyak 51,2 ribu ton jagung kepada peternak ayam petelur di berbagai daerah. Program ini menjadi bukti bahwa swasembada jagung tidak hanya menjaga ketahanan pangan, tetapi juga memberikan manfaat langsung bagi petani dan pelaku industri peternakan.
Dengan fondasi produksi yang kuat di awal 2026, Indonesia semakin mantap melangkah menuju kemandirian pangan, khususnya pada komoditas strategis jagung. (ing)
