BERIKABARNEWS l KUCHING – Sarawak mencatatkan pendapatan asli daerah hingga Oktober 2026 mencapai RM10,3 miliar atau sekitar 41 Triliun rupiah, dengan total akhir tahun diperkirakan mencapai RM12,1 miliar atau sekitar 48 triliun rupiah.
Menurut Premier Sarawak sekaligus Menteri Keuangan dan Ekonomi Baru, Datuk Patinggi Tan Sri Abang Johari Tun Openg, meskipun jumlah ini masih tinggi, namun turun RM2,1 miliar atau 15% dibandingkan perkiraan awal RM14,2 miliar, karena harga minyak mentah global yang tetap rendah, rata-rata USD69 per barel sepanjang tahun 2026.
Pendapatan ini berasal dari berbagai sumber utama, termasuk pajak penjualan negara RM3,9 miliar yang sebagian besar dari minyak bumi dan minyak sawit, kompensasi tunai hak minyak dan gas RM2,2 miliar, serta dividen RM1,1 miliar.
Baca Juga : Sarawak Catatkan Pendapatan 4,2 Triliun dari Sektor Pariwisata di Bulan Oktober 2025
Sumber lain termasuk bunga dan penghasilan investasi RM640 juta, royalti air mentah RM562 juta, premi tanah RM232 juta, hasil hutan RM209 juta, kompensasi impor dan bea cukai minyak bumi RM120 juta, hibah dan pembayaran kembali Federal RM744 juta, serta sumber lain seperti royalti pertambangan, penjualan air, dan sewa tanah RM593 juta.
Secara keseluruhan, berbagai sumber ini membantu Sarawak mempertahankan keuangan negara yang kuat meskipun menghadapi tantangan harga minyak global yang rendah.
Premier menegaskan, anggaran 2026 akan fokus pada pemberdayaan masyarakat, peningkatan kesejahteraan, dan pembangunan masa depan yang lebih tangguh, sambil memastikan pertumbuhan ekonomi negara tetap berkelanjutan meskipun menghadapi tantangan global. (ndo)
