BERIKABARNEWS l FLORIDA – Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dijadwalkan bertemu dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Mar-a-Lago, Florida, Minggu (28/12/2025). Pertemuan ini menjadi agenda krusial untuk membahas proposal baru berisi 20 poin yang bertujuan mengakhiri konflik Ukraina–Rusia yang telah berlangsung hampir empat tahun.
Pertemuan tatap muka ini merupakan yang pertama sejak Oktober lalu dan berlangsung di tengah meningkatnya eskalasi serangan rudal serta drone Rusia yang menargetkan infrastruktur energi di Kyiv dan sejumlah wilayah Ukraina.
Proposal Damai 20 Poin dan Zona Demiliterisasi
Dalam agenda pembahasan, Zelensky membawa proposal damai yang mencakup penghentian perang di sepanjang garis depan saat ini. Salah satu poin utama adalah pembentukan zona penyangga demiliterisasi di wilayah konflik. Untuk pertama kalinya, Kyiv juga secara eksplisit membuka kemungkinan konsesi teritorial terbatas di wilayah timur.
Meski demikian, Ukraina menegaskan garis merah yang tidak dapat ditawar, yakni menolak menarik pasukan dari sekitar 20 persen wilayah Donetsk timur yang masih berada di bawah kendalinya. Sikap ini bertentangan dengan tuntutan utama Rusia yang menginginkan penarikan penuh pasukan Ukraina dari kawasan tersebut.
Sementara itu, Presiden Donald Trump belum memberikan komitmen penuh terhadap proposal yang diajukan Zelensky. Ia menyatakan masih akan mencermati secara menyeluruh isi rencana tersebut sebelum memberikan persetujuan.
“Zelensky tidak memiliki apa pun sampai saya menyetujuinya. Kita akan lihat apa yang dia miliki,” ujar Trump.
Dukungan Eropa dan Kanselir Jerman Friedrich Merz
Menjelang pertemuan di Florida, Zelensky melakukan koordinasi intensif dengan para pemimpin Eropa melalui konferensi telepon. Kanselir Jerman Friedrich Merz, bersama pimpinan Uni Eropa Ursula von der Leyen dan Antonio Costa, menyatakan dukungan penuh terhadap upaya perdamaian Ukraina.
Para pemimpin Eropa menegaskan bahwa komitmen mereka terhadap Ukraina tetap solid, meskipun Rusia menuding negara-negara Barat berupaya menghambat inisiatif perdamaian sebelumnya.
Zelensky menekankan bahwa fokus utama dalam pertemuannya dengan Trump adalah memperoleh jaminan keamanan jangka panjang bagi Ukraina.
“Jaminan keamanan harus berjalan seiring dengan berakhirnya perang. Kami harus yakin Rusia tidak akan kembali melakukan agresi,” tegas Zelensky saat singgah di Kanada.
Baca Juga : Trump Sambut Gencatan Senjata Thailand–Kamboja
Selain jaminan keamanan, Ukraina juga membutuhkan dukungan finansial dan pasokan persenjataan berkelanjutan, terutama teknologi drone, untuk menghadapi serangan udara Rusia yang kian intensif.
Dari pihak Rusia, Menteri Luar Negeri Sergei Lavrov menyampaikan kritik keras terhadap keterlibatan negara-negara Eropa. Ia menilai Uni Eropa kini menjadi hambatan utama bagi proses perdamaian, terutama setelah perubahan kepemimpinan di Amerika Serikat.
Meski demikian, Moskow menyatakan tetap membuka jalur komunikasi dengan negosiator Amerika, sembari menyuarakan skeptisisme terhadap ambisi politik Eropa yang dinilai mengabaikan kepentingan domestik mereka sendiri.
Di sisi lain, dukungan internasional terhadap Ukraina terus mengalir. Perdana Menteri Kanada Mark Carney mengumumkan paket bantuan ekonomi senilai CAND 2,5 miliar atau sekitar USD 1,82 miliar, yang akan dialokasikan untuk mendukung proses rekonstruksi Ukraina pascaperang. (ing)
Sumber :
AFP
