BERIKABARNEWS l KUALA LUMPUR – Mata uang Ringgit Malaysia mencatatkan kinerja impresif pada perdagangan Jumat (23/1/2026). Ringgit menguat tajam hingga menembus level psikologis 3,9992 per dolar AS, menjadi posisi terkuat dalam tujuh tahun terakhir sejak Juni 2018.
Penguatan ini dipicu kombinasi sentimen positif, mulai dari prospek ekonomi Malaysia yang solid, meredanya ketegangan geopolitik global, hingga keputusan Bank Negara Malaysia (BNM) yang mempertahankan suku bunga acuan Overnight Policy Rate. Stabilitas kebijakan moneter tersebut dinilai mampu menjaga kepercayaan investor di tengah dinamika ekonomi dunia.
Tak hanya perkasa terhadap dolar AS, Ringgit juga menunjukkan dominasi atas sejumlah mata uang kawasan ASEAN, termasuk Rupiah Indonesia.
Dalam perdagangan terakhir, Ringgit menguat ke kisaran 238,0–238,3 per Rupiah, membaik dibandingkan posisi sebelumnya di level 238,9–239,3. Kondisi ini menandakan bahwa momentum penguatan Ringgit saat ini bergerak lebih agresif dibandingkan Rupiah di pasar spot.
Selain Rupiah, Ringgit juga mencatat penguatan terhadap mata uang regional lainnya. Terhadap dolar Singapura, Ringgit naik ke level 3,1302, sementara terhadap baht Thailand menguat di posisi 12,8362. Ringgit bahkan melonjak signifikan saat berhadapan dengan peso Filipina ke level 6,77.
Chief Economist Bank Muamalat Malaysia Bhd, Dr. Mohd Afzanizam Abdul Rashid, menilai penguatan ini tidak terlepas dari fundamental ekonomi Malaysia yang tetap tangguh. Kinerja sektor elektronik dan elektrik (E&E), serta realisasi investasi yang telah disetujui pemerintah, mulai memberikan dampak nyata terhadap pertumbuhan ekonomi.
Baca Juga : Malaysia Resmi Cabut Blokir AI Grok Milik Elon Musk
Sentimen positif juga datang dari Dana Moneter Internasional (IMF) yang baru-baru ini menaikkan proyeksi pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) riil Malaysia menjadi 4,3 persen untuk periode 2026–2027, naik 0,3 poin persentase dari perkiraan sebelumnya.
Revisi ini memperkuat optimisme investor terhadap stabilitas dan arah ekonomi Malaysia ke depan.
Bank Negara Malaysia vs Bank Indonesia
Di sisi kebijakan, perbedaan pendekatan bank sentral turut memengaruhi pergerakan mata uang. Bank Negara Malaysia cenderung menyampaikan sinyal optimistis terhadap kondisi domestik, sementara Bank Indonesia lebih fokus menjaga stabilitas Rupiah di tengah volatilitas global.
Ketahanan permintaan dalam negeri serta percepatan proyek infrastruktur skala kecil dinilai memberi keuntungan tambahan bagi Malaysia.
Bagi Indonesia dan negara kawasan, penguatan Ringgit menjadi indikator penting dalam persaingan ekonomi regional.
Meski Rupiah relatif stabil, menguatnya mata uang Malaysia berpotensi memengaruhi daya saing perdagangan, khususnya pada sektor ekspor yang saling berhadapan di pasar ASEAN. *
Sumber :
Bernama
