BERIKABARNEWS l PONTIANAK – Rasa lelah, rindu kepada orang tua, latihan yang menguras fisik, hingga bangga menuntaskan tugas menjadi bagian dari perjalanan Paskibraka Pontianak dalam mengibarkan dan menurunkan Bendera Merah Putih pada peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Perjuangan para anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Kota Pontianak Tahun 2026 mendapat apresiasi dari Pemerintah Kota Pontianak bersama sejumlah mitra. Apresiasi tersebut diberikan dalam agenda Ramah Tamah dan Apresiasi Paskibraka Kota Pontianak Tahun 2026 di UMKM Center Kota Pontianak, Minggu (23/8/2026).
Kegiatan itu turut didukung Dekranasda Kota Pontianak, Bank Kalbar, Hotel Novotel, Mitra Anda, dan Optik Pontianak.
Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menyampaikan rasa bangganya kepada seluruh anggota Paskibraka yang telah sukses menjalankan tugas menjaga kehormatan Merah Putih.
Ia juga memberikan apresiasi khusus kepada Celine Olivia Apriani Theo, siswi SMK Negeri 5 Pontianak yang dipercaya menjadi pembawa baki pada upacara pengibaran Bendera Merah Putih di Istana Merdeka.
“Saya mengucapkan apresiasi, terima kasih, dan tentu berbahagia atas prestasi adik-adik yang telah menjalankan tugas pengibaran dan penurunan bendera Merah Putih, terutama Celine yang membawa harum nama Kota Pontianak dan Kalimantan Barat di event nasional,” ujar Edi.
Baca Juga : Pemkot Pontianak Salurkan Bantuan untuk Korban Kebakaran Enam Rumah di Gang Sagu
Menurut Edi, menjadi anggota Paskibraka bukanlah proses yang mudah. Para peserta harus melewati latihan yang menuntut ketangguhan fisik dan mental, kedisiplinan, kekuatan spiritual, serta semangat juang.
Ia berharap perjalanan Paskibraka Pontianak dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk berani bermimpi dan bekerja keras demi meraih prestasi.
“Kita ingin memberikan semangat bagi generasi muda, bahwa kita bisa berprestasi di tingkat nasional,” katanya.
Edi menegaskan tugas Paskibraka tidak berhenti setelah upacara 17 Agustus selesai. Nilai disiplin, tanggung jawab, kekompakan, dan cinta tanah air yang diperoleh selama menjalani pelatihan harus terus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Tugas pengibaran bendera mungkin telah selesai, tetapi tugas untuk menjaga kehormatan bangsa dan menjadi teladan generasi muda baru saja dimulai,” jelasnya.
Baca Juga : Kabut Asap Belum Reda, Pemkot Pontianak Kembali Terapkan Pembelajaran Daring
Salah satu kisah membanggakan datang dari Celine Olivia Apriani Theo. Siswi SMK Negeri 5 Pontianak itu dipercaya menjadi pembawa baki pada upacara pengibaran Bendera Merah Putih di Istana Merdeka.
Bagi Celine, kesempatan tersebut bukan sekadar menjalankan tugas pada 17 Agustus. Pengalaman selama mengikuti pemusatan latihan Paskibraka Nasional di Jakarta menjadi perjalanan yang mengajarkannya tentang disiplin, tanggung jawab, dan kepercayaan diri.
Ia mengaku bangga dapat bertemu dan berproses bersama anggota Paskibraka dari 38 provinsi di Indonesia.
“Saya sangat senang dan bangga karena bisa bertemu dengan teman-teman dari 38 provinsi yang ada di Indonesia,” ujar Celine.

Pertemuan dengan generasi muda dari berbagai daerah membuatnya semakin memahami keberagaman Indonesia. Meski memiliki latar belakang dan budaya berbeda, mereka disatukan oleh semangat cinta tanah air.
Celine berharap pengalaman dan ilmu yang diperolehnya selama berada di Jakarta dapat dibagikan kepada generasi muda di Pontianak. Ia pun berpesan agar tidak takut bermimpi dan terus percaya pada kemampuan diri sendiri.
“Pesan saya untuk teman-teman semuanya, tetap semangat dan jangan pernah takut untuk bermimpi. Jangan pernah ragu sama kemampuan diri kita sendiri. Teruslah berproses, karena proses itulah yang akan mengantarkan kita ke kesuksesan,” ucapnya.
Baca Juga : Rakorda MUI se-Kalimantan Ditutup, Edi Ajak Ulama dan Pemerintah Perkuat Sinergi
Kisah lain datang dari Adrian Dimas Christoper Situmorang, anggota Paskibraka asal SMA Negeri 4 Pontianak.
Bagi Adrian, perjalanan menuju tugas pengibaran dan penurunan Bendera Merah Putih dipenuhi berbagai tantangan. Rasa lelah, rindu kepada orang tua, hingga mental yang terus diuji menjadi bagian dari proses latihan.
“Kami merasa letih, lelah, dan rindu sama orang tua. Jujur kami juga merasa ingin cepat-cepat pulang,” ujarnya.
Adrian mengaku sempat tergoda untuk mundur ketika pelatih memberikan kesempatan kepada peserta yang merasa tidak sanggup melanjutkan latihan. Namun, ia kembali teringat pesan bahwa anggota yang terpilih menjadi Paskibraka Kota Pontianak merupakan siswa-siswa terbaik dari ratusan peserta seleksi.
“Saya tahu bahwa Pak Fajar selalu mengingatkan, orang-orang yang terpilih sebagai Paskibraka Kota Pontianak merupakan orang-orang terbaik dari banyak sekolah,” katanya.
Perlahan, rasa lelah dan keinginan untuk pulang berubah menjadi semangat. Adrian menyadari bahwa latihan berat yang dijalani bukan hanya untuk mempersiapkan fisik, tetapi juga membentuk mental dan tanggung jawab.
“Perasaan letih, lelah, dan ingin cepat-cepat pulang mulai menghilang. Malahan berganti menjadi semangat yang menggebu-gebu,” tuturnya.
Puncak perjalanan itu terjadi pada 17 Agustus 2026. Adrian dan anggota Paskibraka lainnya berhasil menjalankan tugas pengibaran Bendera Merah Putih dengan lancar.
Tantangan sempat muncul menjelang penurunan bendera ketika hujan turun dan membuat mental para anggota terguncang. Namun, hujan berhenti dan cuaca membaik saat pelaksanaan penurunan berlangsung.
“Ketika penurunan, mental kami sempat terguncang karena cuacanya kurang baik. Waktu itu hujan. Puji Tuhan, ketika penurunan tiba-tiba hujan berhenti dan kondisi cuaca membaik,” katanya.
Bagi Adrian, menjadi bagian dari Paskibraka Pontianak merupakan pengalaman berharga yang tidak akan dilupakan. Dari rasa lelah hingga bangga menuntaskan tugas, perjalanan itu menjadi bukti semangat para generasi muda dalam menjaga kehormatan Merah Putih.*
