BERIKABARNEWS l SERANG – Polri berhasil mengidentifikasi satu korban hilangnya KM Arupadatu 1 yang mengangkut rombongan jurnalis di perairan Selat Sunda. Jenazah yang sebelumnya berstatus tanpa identitas atau Mister X dan ditemukan di Pulau Enggano, Bengkulu, dipastikan merupakan Surakhman, salah satu Anak Buah Kapal (ABK).
Identitas Surakhman dipastikan melalui pemeriksaan DNA yang dilakukan Tim Disaster Victim Identification (DVI) Pusdokkes Polri. Hasil pemeriksaan tersebut dicocokkan dengan sampel antemortem dari keluarga korban.
Kapolda Banten Irjen Hengki mengatakan, jenazah pertama kali ditemukan warga di kawasan pesisir Pulau Enggano pada 12 September 2026. Penemuan itu terjadi lima hari setelah KM Arupadatu 1 dilaporkan hilang kontak.
“Berdasarkan hasil pemeriksaan DNA operasi DVI Pusdokkes Polri terhadap mayat Mister X yang ditemukan di Pulau Enggano, Bengkulu, bahwa secara genetik kode jenazah PM/62/P.Enggano/01 teridentifikasi sebagai Surakhman, ABK kapal dan ayah biologis dari Tuan Yayat,” kata Hengki dalam konferensi pers di Polda Banten, Rabu (23/9/2026).
Baca Juga : SAR KM Virgo Transport 8 Diperpanjang 7 Hari, 3 Korban Ditemukan
KM Arupadatu 1 sebelumnya berlayar dari Dermaga Carita, Pandeglang, Banten, untuk mengantarkan rombongan peliput erupsi Gunung Anak Krakatau.
Kapal tersebut membawa delapan orang, termasuk lima jurnalis, sebelum akhirnya hilang kontak di perairan Selat Sunda.
Pada 12 September 2026, warga menemukan jenazah pria tanpa identitas di pesisir Sawang Bengkok, Desa Khayapu, Kecamatan Enggano, Bengkulu Utara.
Lokasi penemuan berjarak sekitar 354 hingga 380 kilometer dari titik awal kapal hilang. Jenazah diduga terdorong hingga ke Pulau Enggano akibat arus laut yang kuat.
Operasi pencarian kemudian dilakukan oleh tim SAR gabungan. Namun, setelah 10 hari pencarian, operasi SAR resmi dihentikan pada 17 September 2026.
Saat ditemukan, jenazah diketahui mengenakan celana pendek berwarna hitam. Korban memiliki tinggi badan sekitar 163 sentimeter dan diperkirakan berusia 50 tahun.
Untuk memastikan identitasnya, tim Biddokkes Polda Banten bersama Polda Bengkulu mengumpulkan data antemortem dari delapan keluarga korban.
Pemeriksaan identifikasi dilakukan dengan mencocokkan sejumlah data, termasuk sampel DNA, sidik jari, dan rekam medis gigi.
Hasil pemeriksaan DVI Pusdokkes Polri pada 23 September 2026 kemudian memastikan jenazah tersebut adalah Surakhman, salah satu ABK KM Arupadatu 1.
Baca Juga : Pencarian KMP Virgo Transport 8 Berlanjut, 126 Orang Masih Hilang
Setelah proses identifikasi selesai di RS Bhayangkara Polda Bengkulu, jenazah Surakhman dijadwalkan diterbangkan menuju Bandara Soekarno-Hatta pada Kamis (24/9/2026).
Jenazah selanjutnya akan dibawa ke rumah duka di Kampung Pagedongan, Pandeglang, Banten, untuk dimakamkan.
Gubernur Banten Andra Soni menyampaikan duka cita atas musibah yang menimpa rombongan KM Arupadatu 1.
Semasa hidup, Surakhman dikenal sebagai tulang punggung keluarga yang dengan tulus merawat saudaranya yang mengalami tunanetra.
KM Arupadatu 1 membawa total delapan orang dalam pelayaran tersebut, termasuk lima jurnalis. Hingga kini, tujuh korban lainnya masih belum ditemukan.
Meski operasi SAR telah ditutup, keluarga korban sebelumnya menggelar prosesi tabur bunga di perairan Selat Sunda.
Prosesi tersebut dilakukan sebagai bentuk penghormatan terakhir sekaligus doa bagi seluruh penumpang KM Arupadatu 1 yang masih dinyatakan hilang.*
