BERIKABARNEWS l PONTIANAK – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat mulai menunjukkan perkembangan positif. Jumlah titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan tinggi turun menjadi 24 titik berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) hingga Minggu (4/10/2026) pukul 23.59 WIB.
Sebagian besar hotspot karhutla Kalbar tersebut terdeteksi di Kabupaten Ketapang. Penurunan jumlah titik panas menjadi salah satu indikator membaiknya kondisi penanganan karhutla di sejumlah wilayah.
Meski demikian, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) tetap memperpanjang status tanggap darurat karhutla selama 14 hari ke depan. Langkah ini dilakukan untuk menjaga kesiapsiagaan sekaligus memastikan penanganan di lapangan tetap berjalan.
Baca Juga : Rp40 Miliar Dana Banpres Disiapkan, Pemprov Kalbar Perkuat Karhutla
Untuk mempertahankan kondisi tersebut, penanganan karhutla Kalbar terus dilakukan melalui operasi terpadu oleh Satgas Darat dan Satgas Udara.
Operasi tersebut melibatkan Pemprov Kalbar, pemerintah kabupaten dan kota, TNI, Polri, Manggala Agni, serta masyarakat. Kolaborasi lintas sektor diperlukan untuk memastikan titik panas yang terdeteksi dapat segera ditindaklanjuti.
Patroli dan ground check dilakukan secara berkala untuk memantau sekaligus memverifikasi langsung lokasi yang terindikasi memiliki hotspot. Langkah tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan titik panas benar-benar ditangani.
Selain pemantauan, petugas juga melakukan pemadaman darat dan pendinginan pada area gambut yang terbakar. Pendinginan dilakukan untuk mencegah bara api kembali muncul setelah proses pemadaman.
Sementara untuk wilayah yang sulit dijangkau melalui jalur darat, pemadaman dilakukan dari udara menggunakan metode water bombing. Helikopter pengebom air dikerahkan untuk menjangkau lokasi yang memiliki akses terbatas.
Baca Juga : Pemprov Kalbar Perkuat Kesiapsiagaan Hadapi Cuaca Ekstrem
Di tengah kondisi karhutla yang mulai membaik, pemerintah daerah juga meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan cuaca. Memasuki pertengahan Oktober 2026, curah hujan di Kalimantan Barat diproyeksikan meningkat secara bertahap.
Perubahan tersebut menjadi bagian dari transisi musim yang perlu diantisipasi. Peningkatan curah hujan berpotensi memunculkan ancaman bencana hidrometeorologi, terutama banjir dan tanah longsor di wilayah yang rawan.
Karena itu, kesiapsiagaan menghadapi perubahan cuaca tetap menjadi perhatian pemerintah daerah meski penanganan karhutla menunjukkan perkembangan positif.
Pemprov Kalbar juga mengimbau masyarakat ikut mempertahankan kondisi tersebut dengan tidak melakukan pembersihan maupun pembukaan lahan menggunakan cara dibakar.
Penurunan hotspot menjadi 24 titik menunjukkan penanganan karhutla Kalbar mulai membaik. Namun, operasi pemadaman dan pemantauan tetap dilakukan untuk menjaga kondisi tersebut sekaligus mengantisipasi potensi kebakaran kembali muncul.*
