BERIKABARNEWS l MOSKOW – Serangan drone Ukraina menghantam pusat data milik Sberbank di Balakovo, Rusia, pada Rabu (14/10/2026). Serangan ini menambah tekanan terhadap ambisi Rusia mengembangkan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk bersaing dengan Amerika Serikat dan China.
Sberbank, bank sekaligus perusahaan teknologi terbesar di Rusia, memastikan serangan tersebut tidak mengganggu operasional infrastruktur digital maupun layanan perbankannya.
“Kami mengonfirmasi bahwa pusat pemrosesan data tersebut memang diserang. Namun, seluruh sistem dan layanan Sberbank tetap beroperasi secara normal tanpa gangguan,” kata Wakil CEO Pertama Sberbank, Alexander Vedyakhin.
Serangan ini terjadi setelah tiga pusat data milik perusahaan teknologi Yandex juga diserang dalam sepekan terakhir.
Pusat data Sberbank di Balakovo direncanakan menjadi lokasi superkomputer terbesar di Rusia, dengan target beroperasi penuh pada 2027. Sementara itu, pusat data Yandex yang sebelumnya diserang menampung tiga superkomputer aktif milik perusahaan tersebut.
Baca Juga : Banjir Bandang Nepal, 321 Orang Dievakuasi dan Pendaki Terjebak
Hingga kini, Sberbank dan Yandex belum mengonfirmasi tingkat kerusakan pada perangkat superkomputer yang digunakan untuk melatih model AI mereka.
Kedua perusahaan merupakan pengembang utama AI di Rusia melalui produk GigaChat dan YandexGPT. Kerusakan infrastruktur teknologi tersebut dikhawatirkan menghambat pengembangan AI nasional.
Industri AI Rusia juga menghadapi kendala akibat sanksi ekonomi negara-negara Barat yang membatasi akses terhadap perangkat keras canggih.
Sberbank memperkirakan kemampuan AI Rusia masih tertinggal hingga sembilan bulan dibandingkan para pemimpin global, yakni Amerika Serikat dan China.
CEO Sberbank, German Gref, menyebut keterbatasan impor unit pemroses grafis (GPU) modern sebagai salah satu hambatan utama. Ketergantungan pada ekosistem perangkat lunak Nvidia turut menjadi tantangan bagi industri teknologi Rusia.
Baca Juga : Arab Saudi Siaga Usai Serangan Berulang di Bandara Riyadh
Pakar teknologi informasi Mikhail Klimarev menilai kerusakan superkomputer akibat serangan drone berpotensi memperlambat perkembangan industri AI Rusia.
Menurut Klimarev, pengadaan peralatan pengganti melalui jalur tidak langsung membutuhkan biaya tinggi dan waktu panjang. Pembeli juga harus bernegosiasi dengan pemasok yang khawatir terkena dampak sanksi.
Menyusul serangkaian serangan tersebut, Kementerian Pembangunan Digital Rusia mulai berkoordinasi dengan militer untuk memperketat pengamanan fasilitas data strategis.
Sejumlah anggota parlemen Rusia juga mengusulkan pemindahan pusat data penting ke fasilitas bawah tanah guna melindunginya dari serangan drone.
Sementara itu, Ukraina menyatakan serangan tersebut merupakan balasan atas serangan Rusia terhadap pusat data dan infrastruktur energi di wilayah Ukraina.*
