BERIKABARNEWS l – Serangan udara besar-besaran yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada akhir Februari 2026 menjadi puncak dari ketegangan panjang yang terus membara. Konflik ini tidak muncul tiba-tiba, melainkan dipicu kombinasi represi domestik, kebuntuan diplomasi nuklir, serta kekhawatiran atas kekuatan rudal dan jaringan proksi Teheran di kawasan.
Berikut rangkaian faktor yang melatarbelakangi pecahnya eskalasi terbuka di Timur Tengah.
Gejolak di Iran bermula dari krisis ekonomi yang memicu demonstrasi massal sejak akhir Desember. Aksi protes memuncak pada 8–9 Januari 2026 dan berubah menjadi gerakan anti-pemerintah berskala nasional.
Lembaga Human Rights Activists News Agency (HRANA) melaporkan lebih dari 7.000 korban jiwa dalam gelombang represi tersebut. Sementara Presiden Donald Trump bahkan menyebut angka kematian bisa mencapai 32.000 orang, mengutip laporan media luar negeri.
Di sisi lain, pemerintah Iran mengakui sekitar 3.000 kematian dan menuding kerusuhan sebagai aksi yang didalangi kekuatan asing. Lebih dari 53.000 orang dilaporkan ditangkap sejak awal tahun, mempertegas sorotan dunia terhadap kondisi hak asasi manusia di negara tersebut.
Ketegangan kian tajam ketika perhatian Washington beralih pada program nuklir Teheran. AS mendesak penghentian total pengayaan uranium, termasuk untuk kepentingan sipil. Iran sendiri diketahui telah memperkaya uranium hingga 60 persen—tingkat yang memicu kekhawatiran Barat.
Dalam pidato kenegaraan, Trump menuduh Iran memiliki ambisi nuklir yang mengancam keamanan global. Perundingan di Jenewa pekan ini pun berakhir tanpa hasil, setelah Washington meminta agar pembahasan juga mencakup rudal balistik dan dukungan Iran terhadap kelompok milisi kawasan.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan program pertahanan negaranya tidak bisa dijadikan bahan tawar-menawar.
Baca Juga : Iran Ancam Balas Serangan AS, Diplomasi Geneva Masih Dibuka
Selain isu nuklir, gudang rudal balistik Iran menjadi perhatian utama. AS dan Israel menilai kemampuan rudal jarak menengah Teheran mampu menjangkau pangkalan militer Barat di kawasan hingga Eropa.
Namun Iran bersikeras bahwa pengembangan rudal adalah bagian dari hak pertahanan diri yang sah dan tidak melanggar hukum internasional.
Operasi militer yang dikenal sebagai Operation Epic Fury juga disebut bertujuan melemahkan jaringan proksi Iran atau “Axis of Resistance”. Jaringan ini mencakup Hezbollah di Lebanon, Hamas di Palestina, serta kelompok Houthi movement di Yaman, selain milisi di Irak dan Suriah.
Trump melalui platform Truth Social menyatakan tidak akan lagi mentoleransi aksi kelompok proksi yang dinilai mengganggu stabilitas kawasan, termasuk serangan terhadap Israel dan jalur pelayaran internasional.
Dengan eskalasi yang terus berkembang, banyak pengamat menilai peta kekuatan Timur Tengah berpotensi berubah drastis. Dunia kini menanti apakah ruang diplomasi masih terbuka, atau konflik akan meluas menjadi perang regional yang lebih besar.*
Sumber :
AFP
