BERIKABARNEWS l NEW JERSEY – Final Piala Dunia yang dijadwalkan berlangsung pada Minggu waktu setempat dibayangi ancaman kabut asap akibat kebakaran hutan besar di Kanada. Asap dilaporkan terus bergerak ke wilayah timur Amerika Serikat dan mulai memengaruhi kualitas udara di sekitar New Jersey, lokasi pertandingan puncak akan digelar.
Kondisi tersebut memicu kekhawatiran terhadap kesehatan para pemain, ofisial, dan ribuan suporter yang akan memadati stadion terbuka. Pemerintah Amerika Serikat melalui Satuan Tugas (Satgas) Piala Dunia memastikan terus memantau perkembangan kualitas udara secara intensif.
Direktur Eksekutif Satgas Piala Dunia Gedung Putih, Andrew Giuliani, mengatakan pemantauan dilakukan secara real-time untuk mengantisipasi perubahan kondisi cuaca menjelang laga final.
“Kami terus memantau perkembangan situasi ini dengan sangat cermat dari jam ke jam,” ujarnya dalam taklimat resmi.
Meski kualitas udara di kawasan New York dan New Jersey sempat membaik, Badan Cuaca Nasional Amerika Serikat (NWS) memperingatkan bahwa kabut asap berpotensi kembali meningkat.
Baca Juga : Rusia Ukraina Saling Serang, 10 Warga Sipil Tewas dalam Sehari
Pakar meteorologi NWS, Peter Mullinax, menjelaskan arah angin dari kawasan Great Lakes dapat membawa gelombang asap baru ke wilayah timur laut Amerika Serikat setelah badai akhir pekan.
Sebagai langkah antisipasi, Pemerintah Kota New York mulai membagikan masker gratis di sejumlah fasilitas umum, seperti stasiun kereta dan perpustakaan, seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap dampak buruk kualitas udara.
Peneliti dari University of British Columbia, Chris Carlsten, menjelaskan bahwa asap kebakaran hutan memiliki karakteristik berbeda dibandingkan polusi dari kendaraan bermotor.
Menurutnya, partikel halus hasil pembakaran vegetasi dapat bercampur dengan material lain seperti plastik, cat, dan logam dari bangunan yang ikut terbakar. Selama bergerak di atmosfer, partikel tersebut juga mengalami proses photochemical aging atau penuaan fotokimia yang membuat tingkat toksisitasnya meningkat.
Akibatnya, partikel asap menjadi lebih berbahaya ketika terhirup dan berpotensi memberikan dampak lebih besar terhadap kesehatan paru-paru.
Baca Juga : AS Gempur Instalasi Militer Iran
Kabut asap lintas batas juga memicu ketegangan politik antara Amerika Serikat dan Kanada.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menilai pemerintah Kanada lalai dalam mengelola kebakaran hutan sehingga asap terus berdampak ke wilayah AS.
Melalui akun Truth Social, Trump menyatakan kerugian akibat polusi asap telah mencapai miliaran dolar dan mengusulkan agar biaya tersebut diperhitungkan dalam kebijakan tarif perdagangan terhadap Kanada.
“Ini adalah bentuk kelalaian yang disengaja dan sekarang menjadi agenda tahunan yang merugikan Amerika Serikat miliaran dolar. Biaya akibat polusi ini mau tidak mau harus dibebankan ke dalam tarif dagang yang saat ini dibayarkan oleh Kanada,” tulis Trump.
Trump juga menyatakan akan menghubungi Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, untuk membahas penanganan kabut asap lintas negara.
Sementara itu, Menteri Manajemen Darurat Kanada, Eleanor Olszewski, menegaskan pemerintah Kanada terus berkoordinasi dengan Amerika Serikat dalam penanganan kebakaran hutan. Ia menyebut Kanada telah menginvestasikan sekitar 12 miliar dolar AS sejak 2020 untuk mendukung program pengelolaan hutan dan pencegahan kebakaran.*
Sumber :
AFP
