BERIKABARNEWS l – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, resmi mencabut rencana penerapan tarif atau biaya keamanan (United States Reimbursement Fee) sebesar 20 persen bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz. Keputusan tersebut sekaligus membuka kembali jalur pelayaran internasional di selat strategis tersebut, meski pengecualian tetap diberlakukan bagi kapal-kapal milik Iran.
Pengumuman itu disampaikan hanya beberapa jam sebelum kebijakan tarif mulai berlaku. Trump menyebut keputusan tersebut diambil setelah melakukan komunikasi intensif dengan para pemimpin negara-negara di kawasan Timur Tengah.
Menurut Trump, kebijakan tarif diganti dengan pendekatan yang lebih berorientasi pada kerja sama ekonomi dan investasi.
“Berdasarkan percakapan yang sangat produktif dengan para pemimpin Timur Tengah, saya memutuskan untuk mengganti United States Reimbursement Fee sebesar 20 persen dengan Kesepakatan Perdagangan dan Investasi. Negara-negara Teluk nantinya akan berinvestasi langsung ke Amerika Serikat,” tulis Trump melalui akun Truth Social.
Baca Juga : Mantan Emir Qatar Sheikh Hamad bin Khalifa Al-Thani Meninggal Dunia di Usia 74 Tahun
Dengan dicabutnya tarif tersebut, kapal-kapal internasional kembali dapat melintasi Selat Hormuz yang selama ini menjadi salah satu jalur pelayaran energi terpenting di dunia. Jalur ini dilalui sekitar seperlima distribusi minyak dan gas global setiap harinya sehingga memiliki peran strategis bagi perdagangan internasional.
Keputusan Trump juga disambut positif oleh pasar global. Harga kontrak berjangka minyak dunia dilaporkan bergerak turun setelah sebelumnya sempat menguat akibat kekhawatiran terganggunya pasokan energi.
Sebelumnya, rencana pungutan 20 persen terhadap kapal yang melintasi Selat Hormuz menuai perhatian karena dikhawatirkan meningkatkan biaya logistik dan memicu kenaikan harga energi di pasar global.
Baca Juga : Serangan Baru AS ke Iran Picu Lonjakan Harga Minyak Dunia
Meski jalur pelayaran kembali dibuka, situasi keamanan di Timur Tengah masih memanas. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran dilaporkan terus berlanjut dengan aksi saling serang di sejumlah wilayah.
Laporan yang beredar menyebut Iran meluncurkan rudal ke arah pangkalan militer Amerika Serikat di Yordania. Militer Yordania mengklaim berhasil mencegat sejumlah rudal yang melintasi wilayah udaranya.
Sementara itu, Bahrain juga dilaporkan mengaktifkan sistem pertahanan udara untuk mengantisipasi serangan yang diduga berasal dari Iran.
Dibukanya kembali Selat Hormuz diharapkan dapat menjaga kelancaran distribusi energi dan perdagangan internasional. Namun, para pengamat menilai stabilitas kawasan masih bergantung pada perkembangan hubungan antara Amerika Serikat dan Iran dalam beberapa waktu ke depan.*
Sumber :
Reuters
