BERIKABARNEWS l PONTIANAK – Kelompok Kreasi Sungai Putat (KSP) di Kelurahan Siantan Hilir, Kecamatan Pontianak Utara, mengembangkan sistem pertanian terpadu berbasis ekonomi sirkular dengan mengolah limbah organik rumah tangga menjadi sumber pangan mandiri. Inovasi tersebut membuktikan pekarangan rumah yang terbatas dapat dimanfaatkan menjadi lahan produktif sekaligus bernilai ekonomi.
Ketua KSP, Syamhudi, mengatakan program ini mengintegrasikan budidaya maggot, puyuh, ayam kampung, lobster air tawar, dan aquaponik dalam satu siklus yang saling terhubung tanpa menghasilkan limbah.
“Mari bersama mewujudkan pekarangan produktif, keluarga sejahtera, masyarakat sehat, lingkungan lestari,” ujarnya.
Dalam penerapannya, sisa sayuran dan limbah dapur dimanfaatkan sebagai pakan larva lalat Black Soldier Fly (BSF) atau maggot. Selanjutnya, maggot menjadi sumber pakan berprotein tinggi untuk ayam kampung, burung puyuh, dan lobster air tawar.
Sementara itu, kotoran ternak dan sisa pakan diolah menjadi kasgot serta kompos organik yang digunakan untuk menyuburkan tanaman di pekarangan. Hasil panen sayuran kemudian kembali dimanfaatkan sebagai pakan maggot sehingga membentuk siklus pertanian yang berkelanjutan.
Baca Juga : 270 Anak Pontianak Mulai Pendidikan di Sekolah Rakyat, Wako Edi Tinjau Fasilitas
Ketua RW 004 Siantan Hilir, Ponijan, mengungkapkan pekarangan warga yang sebelumnya hanya dimanfaatkan untuk aktivitas sehari-hari kini berubah menjadi lahan produktif yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
“Ini dimanfaatkan untuk masyarakat supaya lebih mengerti tentang kegiatan usaha. Mudah-mudahan dari pihak Pertamina nanti bisa membantu pengembangan kelompok usaha,” katanya.
Program Kreasi Sungai Putat juga mendapat dukungan dari PT Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). Integrated Terminal Manager Pontianak, Adi Wahyu Christianto, menilai program tersebut memiliki potensi besar dalam mendukung ketahanan pangan sekaligus membuka peluang tambahan penghasilan bagi masyarakat.
“Kegiatan ini dapat terus berjalan. Ada potensi menciptakan bahan makanan sekaligus tambahan penghasilan,” ujarnya.
Adi juga berharap model pertanian terpadu tersebut dapat direplikasi di berbagai lokasi lain sehingga manfaatnya semakin luas.
Baca Juga : Pemkot Pontianak Rotasi Pejabat, Wako Edi Minta Pelayanan Publik Makin Optimal
Lurah Siantan Hilir, Erin Febrianty, turut mengapresiasi inovasi yang dikembangkan KSP. Menurutnya, pemanfaatan limbah organik melalui konsep ekonomi sirkular menjadi solusi atas persoalan sampah rumah tangga, keterbatasan lahan, serta kebutuhan ketahanan pangan di kawasan perkotaan.
Selain menghasilkan sayuran, telur puyuh, ayam kampung, dan lobster air tawar, program ini juga menjadi sarana edukasi bagi masyarakat untuk mengolah limbah organik menjadi produk yang bermanfaat dan bernilai ekonomi.
Melalui sistem pertanian terpadu tersebut, Kreasi Sungai Putat membuktikan bahwa pekarangan rumah dapat dioptimalkan menjadi pusat ketahanan pangan keluarga sekaligus membuka peluang usaha baru bagi warga di Pontianak Utara.*
