BERIKABARNEWS l – Militer Israel menghancurkan jaringan terowongan bawah tanah yang disebut sebagai markas Hizbullah di Lebanon Selatan melalui ledakan besar pada Jumat (11/9/2026).
Operasi tersebut menyasar kawasan strategis Ali al-Taher. Menurut militer Israel, jaringan bawah tanah itu digunakan Hizbullah sebagai pusat komando, tempat tinggal, sekaligus gudang penyimpanan persenjataan.
Setelah penghancuran fasilitas tersebut, militer Israel menyatakan siap melancarkan serangan balasan lanjutan terhadap Hizbullah.
Menteri Pertahanan Israel Israel Katz mengatakan operasi itu merupakan bagian dari upaya memperkuat zona keamanan bagi warga Israel di wilayah utara.
“Kami berjanji memberikan perlindungan kepada warga di utara, dan kami telah memenuhinya. Sekarang terdapat zona keamanan yang lebih kuat dari sebelumnya untuk mencegah serangan langsung,” ujar Katz, Jumat (11/9/2026).
Baca Juga : IRGC Iran Sita Kapal Selam Nirawak Milik AS di Selat Hormuz
Jaringan terowongan yang dihancurkan Israel memiliki panjang lebih dari dua kilometer. Fasilitas tersebut disebut dibangun selama sekitar dua dekade dengan bantuan Iran.
Di dalam jaringan bawah tanah itu terdapat puluhan roket, rudal, dan drone.
Besarnya ledakan dalam operasi penghancuran tersebut juga menimbulkan guncangan seismik. Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) mencatat guncangan yang dihasilkan setara dengan gempa berkekuatan magnitudo 4,1.
Kawasan Ali al-Taher berada beberapa kilometer dari Kastil Beaufort. Wilayah tersebut menjadi salah satu titik strategis setelah pasukan Israel menguasainya untuk memperkuat zona keamanan.
Baca Juga : Iran Siap Patuhi Kesepakatan Jeda Konflik, Asalkan AS Penuhi Komitmen
Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel Eyal Zamir memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap warga maupun personel militer Israel akan mendapat respons keras.
Zamir juga menyinggung pembicaraan mengenai penempatan tentara resmi Lebanon di wilayah selatan. Ia menegaskan, tentara Lebanon harus mampu menunjukkan efektivitas penjagaan di lapangan agar kesepakatan antara kedua pemerintahan dapat terus berlanjut.
Situasi di Lebanon terus mengalami eskalasi sejak serangan udara Israel terhadap Iran pada akhir Februari 2026 yang kemudian memicu keterlibatan Hizbullah.
Otoritas kesehatan Lebanon mencatat lebih dari 4.300 orang tewas akibat operasi militer Israel di Lebanon sejak Maret 2026.*
