BERIKABARNEWS l TEHERAN – IRGC Iran sita kapal selam nirawak milik AS di pintu masuk Selat Hormuz, Selasa (8/9/2026) subuh. Kapal selam nirawak atau submarine drone tersebut merupakan milik militer Amerika Serikat.
Penyitaan dilakukan Pasukan Angkatan Laut Garda Revolusi Iran (IRGC) melalui operasi intelijen dan operasional yang kompleks. Aksi tersebut berlangsung ketika konflik bersenjata di kawasan Timur Tengah masih berlanjut.
Dalam pernyataan resmi yang disiarkan televisi negara Iran, IRGC menyebut kapal selam nirawak tersebut sebagai salah satu armada modern milik militer AS. Wahana bawah laut itu disebut baru diserahkan kepada jajaran armada militer Amerika Serikat pada 2025.
Kapal selam yang disebut sebagai smart submarine tersebut dibekali teknologi bawah air untuk mendukung berbagai misi strategis.
Baca Juga : USS Abraham Lincoln Tinggalkan Pattaya Usai Lima Hari Bersandar
Berdasarkan laporan media setempat, wahana nirawak milik AS itu memiliki sejumlah kemampuan untuk melakukan pengawasan dan pemantauan di bawah laut.
Salah satunya adalah intelijen bawah laut, yang memungkinkan wahana tersebut digunakan untuk mengawasi dan mengintai aktivitas di kedalaman laut.
Kapal selam nirawak itu juga memiliki kemampuan pemetaan dasar laut, termasuk memetakan topografi serta memantau kontur dasar laut.
Selain itu, teknologi tersebut dapat digunakan untuk mendeteksi ranjau laut, termasuk melacak dan melakukan inspeksi terhadap keberadaan ranjau.
Kemampuan lainnya mencakup inspeksi infrastruktur bawah laut, seperti kabel telekomunikasi serta jaringan pipa gas dan minyak.
Baca Juga : Iran Siap Patuhi Kesepakatan Jeda Konflik, Asalkan AS Penuhi Komitmen
Penyitaan kapal selam nirawak AS menambah ketegangan di Selat Hormuz. Jalur pelayaran tersebut merupakan salah satu rute strategis bagi perdagangan energi dunia.
Dalam kondisi normal, Selat Hormuz menjadi jalur bagi sekitar seperlima dari total ekspor minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.
Namun, jalur tersebut telah diblokade pihak Teheran sejak pecahnya perang di Timur Tengah pada akhir Februari lalu.
Amerika Serikat kemudian merespons langkah tersebut dengan menerapkan kontra-blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan milik Iran.
Di tengah situasi yang semakin tegang, Pemerintah Iran juga berencana memungut biaya transit bagi kapal perdagangan yang melintasi Selat Hormuz.
Teheran menyatakan biaya tersebut akan digunakan untuk mendanai layanan perlindungan lingkungan laut. Namun, rencana pemungutan biaya transit itu mendapat penolakan keras dari Amerika Serikat.*
