BERIKABARNEWS l – Persaingan kecerdasan buatan (AI) antara Amerika Serikat (AS) dan China semakin ketat. CEO Meta Mark Zuckerberg mendesak pemerintah AS mengurangi hambatan regulasi terhadap pengembangan AI open-source agar perusahaan teknologi Amerika tidak tertinggal dari rivalnya di China.
Desakan itu disampaikan bersamaan dengan peluncuran model open-weight terbaru Meta, Muse Glimmer. Model AI tersebut berukuran lebih kecil dibandingkan sejumlah model pesaing dan dirancang untuk menangani berbagai tugas agentic.
Muse Glimmer juga dapat dijalankan langsung pada komputer PC atau Mac hanya dengan menggunakan satu kartu grafis (GPU).
Menurut Zuckerberg, model open-weight memiliki keunggulan karena relatif lebih terjangkau dibandingkan model tertutup atau closed-source yang dikembangkan perusahaan seperti OpenAI dan Anthropic.
Komponen utama model open-weight juga dapat diakses publik sehingga memungkinkan pengembang melakukan penyesuaian dan modifikasi sesuai kebutuhan.
Baca Juga : Zoox Resmi Operasikan Robotaxi Berbayar di Las Vegas Mulai Pekan Depan
Zuckerberg menilai aturan terkait data pelatihan menjadi salah satu hambatan bagi pengembang AI di AS. Kondisi tersebut dinilai memberikan keuntungan bagi perusahaan teknologi dari luar negeri.
“Kebijakan AS harus mengurangi hambatan ini jika ingin model open-source Amerika memimpin dalam jangka panjang,” ujar Zuckerberg.
Ia menambahkan, membatasi akses terhadap model open-source dari luar negeri bukan langkah yang efektif untuk memenangkan persaingan AI.
Persaingan AI semakin memanas setelah sejumlah startup China berhasil mengembangkan model open-weight dengan kemampuan yang mampu menyaingi sistem AI dari laboratorium AS.
Beberapa di antaranya adalah Kimi K3 dari Moonshot, Qwen3.8-Max dari Alibaba, dan V4-Flash dari DeepSeek.
Di sisi lain, perusahaan teknologi besar AS seperti OpenAI, Anthropic, dan Google masih banyak mengembangkan model AI tertutup.
Peluncuran Muse Glimmer menjadi bagian dari strategi Meta untuk memperkuat posisi di industri AI. Langkah ini dilakukan setelah Meta membentuk tim superintelligence dengan investasi besar pada tahun lalu.
Pengembangan AI open-source juga mendapat perhatian karena tingginya biaya operasional dan meningkatnya risiko keamanan siber.
Baca Juga : SpaceX Uji Starship Terbaru, 20 Satelit Starlink V3 Berhasil Diterbangkan
Platform kolaborasi coding Hugging Face, misalnya, menggunakan model open-weight asal China untuk membantu memulihkan keamanan sistem setelah mengalami peretasan yang melibatkan model OpenAI. Model tertutup dinilai memiliki sejumlah keterbatasan untuk pekerjaan keamanan siber.
Sementara itu, pemerintahan Presiden AS Donald Trump mengindikasikan tidak akan mewajibkan pengembang model AI open-weight menjalani uji keselamatan secara sukarela.
Meta sendiri menyiapkan struktur tata kelola baru untuk memastikan aspek keselamatan diperiksa sebelum model AI dirilis. Direktur independen nantinya memiliki kewenangan untuk menyetujui kriteria keselamatan tersebut.
Zuckerberg juga mendukung teknik distillation, yakni metode menggunakan model AI berkapasitas besar untuk melatih model yang lebih kecil dan efisien.*
Sumber :
Reuters
