BERIKABARNEWS l NARATHIWAT – Pemerintah Thailand mengutuk keras serangan bersenjata yang menewaskan lima prajurit militer di Pos Pemeriksaan Bukeh Sami, Provinsi Narathiwat, Thailand Selatan, Rabu (22/7/2026) malam.
Serangan yang juga melibatkan ledakan bom pipa itu menyebabkan enam warga sipil terluka dan kembali memicu kekhawatiran atas meningkatnya eskalasi konflik di kawasan tersebut.
Berdasarkan keterangan resmi Angkatan Darat Thailand, lima korban tewas merupakan anggota Satuan Tugas Resimen Ranger 45 yang sedang bertugas menjaga keamanan masyarakat di pos pemeriksaan.
Rekaman kamera pengawas (CCTV) menunjukkan enam pelaku berpakaian serba hitam tiba menggunakan mobil pikap sebelum melepaskan tembakan ke arah pos. Pada saat yang sama, dua pelaku lain yang mengendarai sepeda motor ikut menyerang dengan melepaskan tembakan serta melemparkan bom pipa.
Baca Juga : Iran Serang Titik Strategis, Trump Beri Peringatan Keras di Tengah Memanasnya Konflik
Dilansir dari AFP, Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul, mengecam keras insiden tersebut dan menyebutnya sebagai tindakan terorisme yang mengancam stabilitas keamanan sekaligus menghambat proses perdamaian di Thailand Selatan.
“Ini adalah tindakan terorisme yang sangat keji dan menjadi hambatan besar bagi upaya perdamaian yang sedang kita perjuangkan di wilayah tersebut,” ujar Anutin.
Selain menewaskan lima prajurit, serangan itu juga melukai enam warga sipil. Juru Bicara Pemerintah Daerah Narathiwat mengatakan salah satu korban adalah anak laki-laki berusia 10 tahun yang mengalami luka tembak di bagian kaki.
Seluruh korban luka telah dievakuasi ke rumah sakit dan mendapat kunjungan langsung dari Gubernur Narathiwat, Boonchuay Homyamyen.
Hingga kini belum ada kelompok yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut. Aparat kepolisian masih melakukan pengejaran terhadap para pelaku yang diduga melarikan diri ke distrik tetangga setelah menutup area di sekitar lokasi kejadian.
Serangan di Narathiwat terjadi hanya sehari setelah ledakan bom mobil di depan sebuah kantor polisi di provinsi yang sama pada Selasa malam. Insiden tersebut menyebabkan kerusakan bangunan dan melukai ringan sejumlah personel keamanan.
Baca Juga : Mengenal Khalil Al-Hayya, Pemimpin Baru Hamas Pengganti Yahya Sinwar
Konflik bersenjata di Thailand Selatan telah berlangsung sejak 2004 dan menewaskan lebih dari 7.000 orang. Konflik tersebut dipicu oleh pemberontakan kelompok yang menuntut otonomi di wilayah tersebut.
Juru Bicara Pemerintah Thailand, Ratchada Thanadirek, menyebut dalam dua hingga tiga bulan terakhir terjadi peningkatan serangan yang menyasar aparat keamanan dan memicu keresahan masyarakat. Sebagai respons, Menteri Pertahanan Thailand dijadwalkan meninjau langsung lokasi serangan.
Sementara itu, pemerintah Thailand masih melanjutkan dialog damai dengan kelompok separatis Barisan Revolusi Nasional (BRN) yang dimediasi Malaysia sejak 2013. Putaran perundingan terakhir berlangsung pada Desember tahun lalu.
Di tengah meningkatnya kekerasan, pemimpin oposisi Natthaphong Ruengpanyawut bersama Amnesty International mendesak pemerintah segera mengambil langkah tegas untuk menghentikan jatuhnya korban jiwa, terutama dari kalangan warga sipil.*
