BERIKABARNEWS l PONTIANAK – Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengajak dunia usaha, perusahaan, komunitas, dan masyarakat untuk berkolaborasi membantu anak-anak penyintas kanker, thalasemia, dan penyakit jantung bawaan. Menurutnya, dukungan dari berbagai pihak sangat dibutuhkan agar beban yang ditanggung anak-anak beserta keluarganya selama menjalani pengobatan dapat berkurang.
Ajakan tersebut disampaikan Edi saat menghadiri peringatan Hari Anak Nasional bersama anak-anak penyintas kanker, thalasemia, dan penyakit jantung bawaan di Aula PMI Kota Pontianak, Kamis (23/7/2026).
Edi menjelaskan, Pemerintah Kota Pontianak selama ini telah mengalokasikan bantuan sosial bagi warga kurang mampu yang membutuhkan dukungan setelah menjalani pengobatan.
Selain itu, Pemkot juga menyediakan skema Penerima Bantuan Iuran (PBI) BPJS Kesehatan, termasuk bantuan biaya perjalanan bagi pasien yang harus dirujuk ke rumah sakit di luar daerah, seperti Jakarta.
“Selama ini Pemkot Pontianak sudah menganggarkan, selain BPJS, bantuan sosial untuk warga yang memerlukan bantuan setelah menjalankan pengobatan, termasuk ongkos perjalanan ke Jakarta bagi warga tidak mampu,” jelas Edi.
Meski demikian, ia menilai pemerintah tidak dapat bekerja sendiri dalam memberikan pendampingan kepada anak-anak dengan penyakit kronis.
Baca Juga : Wako Edi: 72 Persen Pelaku UMKM di Pontianak Perempuan, Jadi Penopang Ekonomi Kota
Edi yang juga menjabat sebagai Ketua PMI Kota Pontianak mengajak perusahaan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), pelaku usaha, komunitas, hingga masyarakat luas untuk ikut berkontribusi membantu para penyintas dan keluarganya.
Menurutnya, kolaborasi lintas sektor akan memberikan dampak yang lebih besar dibandingkan jika hanya mengandalkan pemerintah.
“Kita mengajak CSR dan dunia usaha juga ikut membantu. Karena dengan kolaborasi, kita bisa meringankan beban dari anak-anak ini,” ujarnya.

Ia berharap peringatan Hari Anak Nasional tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial, tetapi mampu memperkuat jejaring kepedulian terhadap anak-anak yang membutuhkan perhatian khusus.
Edi juga mengajak masyarakat menciptakan lingkungan yang aman, penuh kasih, dan mendukung tumbuh kembang anak, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun ruang publik.
“Kita berkepentingan untuk terus berkolaborasi bagaimana anak-anak ini punya kesempatan untuk sehat dan berkembang, sehingga bisa membangun masa depan yang baik,” tambahnya.
Dalam kesempatan tersebut, Edi turut mengapresiasi dukungan berbagai pihak, termasuk relawan Sedaya Indonesia, yang selama ini aktif mendampingi keluarga pasien, terutama saat menjalani pengobatan di Jakarta.
Baca Juga : Pemkot Pontianak Salurkan Bantuan Nelayan, Genset dan BBM Subsidi Dongkrak Penghasilan
Sementara itu, Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah RSUD dr. Soedarso Pontianak, dr. Anindia Wardhani, mengatakan jumlah anak dengan penyakit jantung bawaan yang terdeteksi dan menjalani pemeriksaan terus meningkat.
Namun, ia mengakui layanan penanganan di RSUD dr. Soedarso masih memiliki keterbatasan, khususnya untuk tindakan operasi bedah jantung anak.
“Karena masih ada keterbatasan, kita belum bisa sampai operasi. Beberapa pasien masih kami kirim ke Jakarta untuk penanganan lebih lanjut,” katanya.
Menurut dr. Anindia, dalam satu pekan pihaknya dapat merujuk sekitar lima hingga enam pasien ke RS Jantung Harapan Kita di Jakarta.
Saat ini tercatat sebanyak 29 pasien asal Kalimantan Barat masih berada di Jakarta untuk menjalani pemeriksaan lanjutan maupun menunggu jadwal operasi.
Baca Juga : Bahasan Minta Pertamina Perbaiki Distribusi BBM dan Elpiji untuk Jaga Stabilitas Harga
Meski demikian, dr. Anindia menyebut kemampuan layanan jantung anak di RSUD dr. Soedarso terus mengalami perkembangan.
Beberapa kasus penyakit jantung bawaan dengan tingkat kompleksitas ringan kini sudah dapat ditangani di Kalimantan Barat, mulai dari deteksi dini hingga pemasangan alat tertentu.
“Alhamdulillah karena perkembangan di Soedarso, beberapa penyakit jantung bawaan yang sederhana sudah bisa kita tangani, terutama yang simple, karena sudah bisa pasang alat ataupun deteksi lebih awal,” ungkapnya.
Untuk kasus yang lebih kompleks, terutama yang membutuhkan tindakan bedah jantung, pasien masih harus dirujuk ke RS Jantung Harapan Kita di Jakarta. Karena itu, menurutnya, pendampingan terhadap pasien dan keluarganya tetap menjadi bagian penting dalam proses pengobatan.*
