BERIKABARNEWS l LUMAJANG – Gunung Semeru kembali erupsi pada Senin (7/9/2026) pukul 04.50 WIB. Letusan berlangsung selama 112 detik dengan amplitudo maksimum 17 milimeter yang terekam di seismograf.
Kolom abu erupsi tidak dapat diamati secara visual karena puncak Gunung Semeru tertutup kabut. Saat erupsi terjadi, gunung api tersebut masih berstatus Level III atau Siaga.
Petugas PVMBG Rian Sigit Alfian membenarkan erupsi tersebut. Berdasarkan laporan PVMBG, tinggi kolom erupsi tidak teramati akibat kondisi cuaca.
“Terjadi erupsi G. Semeru pada hari Senin, 07 September 2026, pukul 04:50 WIB. Tinggi kolom erupsi tidak teramati. Erupsi terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 17 mm dan durasi 112 detik,” kata Rian.
Baca Juga : Erupsi Gunung Anak Krakatau, 4 Bandara Ditutup Sementara
Erupsi terbaru tersebut terjadi setelah aktivitas kegempaan Gunung Semeru tercatat meningkat sejak akhir pekan.
Pada Minggu (6/9/2026) pukul 12.00 hingga 18.00 WIB, tercatat 25 kali gempa letusan, 12 kali gempa hembusan, dan tujuh kali gempa guguran. Saat itu, kondisi cuaca di sekitar gunung mendung dan hujan.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Lumajang Isnugroho meminta masyarakat tetap tenang dan tidak panik. Warga juga diminta mengikuti informasi resmi dari PVMBG dan Badan Geologi.
“Yang paling penting adalah masyarakat tetap tenang, tidak panik, dan selalu mengikuti informasi resmi demi menjaga keselamatan bersama,” ujar Isnugroho.
PVMBG dan BPBD Lumajang mengingatkan masyarakat untuk menjauhi sejumlah kawasan yang berpotensi terdampak material erupsi, awan panas, dan lahar dingin.
Baca Juga : Gunung Anak Krakatau Erupsi, Lava Fountain Muncul dan Dentuman Terdengar
Di sektor tenggara, terutama Besuk Kobokan, masyarakat dilarang melakukan aktivitas dalam radius 13 kilometer dari puncak atau pusat erupsi.
Aktivitas juga dilarang dalam jarak 500 meter dari tepi sungai sepanjang Besuk Kobokan. Kawasan tersebut berpotensi terdampak awan panas dan lahar hingga jarak 17 kilometer.
Selain itu, masyarakat diminta tidak mendekati kawah aktif dalam radius 5 kilometer.
Warga yang tinggal di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) yang berhulu di Gunung Semeru, seperti Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, diminta meningkatkan kewaspadaan.
Terutama saat hujan deras turun di kawasan puncak, warga diminta mewaspadai potensi banjir lahar dingin yang dapat mengalir melalui sungai-sungai tersebut.*
