Photovoice Angkat Suara Warga Soal Risiko Banjir di Kota Pontianak

Yayasan Kolase menggelar Program Photovoice untuk memberi ruang bagi warga dalam menyampaikan pengalamannya selama dilanda banjir melalui foto dan narasi.

BERIKABARNEWS l PONTIANAK – Pengalaman warga Kota Pontianak yang selama ini hidup berdampingan dengan banjir rob diangkat melalui program Photovoice yang digelar Yayasan Kolase di Rumah Budaya Gang Hj Salmah, Kelurahan Bansir Laut, Kecamatan Pontianak Tenggara, Kamis (15/1/2026).

Kegiatan ini menjadi ruang refleksi bersama untuk merekam realitas banjir dari sudut pandang warga, sekaligus mendorong lahirnya kebijakan publik yang lebih inklusif dan berpihak kepada masyarakat terdampak.

Ketua Yayasan Kolase, Andi Fahrizal, menjelaskan bahwa Photovoice merupakan metode partisipatif yang menempatkan warga sebagai subjek utama. Melalui pendekatan ini, masyarakat didorong untuk menyampaikan pengalaman hidup mereka menghadapi banjir melalui foto dan narasi.

“Photovoice tidak menempatkan masyarakat sebagai objek penelitian, tetapi sebagai subjek aktif. Warga memotret realitas yang mereka hadapi dan menceritakannya dengan bahasa mereka sendiri,” ujarnya.

Menurut Andi, pendekatan ini penting agar persoalan banjir tidak semata-mata dipahami melalui data dan angka, melainkan juga dari pengalaman sehari-hari warga yang kerap terabaikan dalam proses perumusan kebijakan.

“Foto-foto ini bukan sekadar visual. Di dalamnya ada cerita, ingatan, dan pengalaman hidup warga yang berhadapan langsung dengan banjir,” katanya.

Program Photovoice Banjir Pontianak merupakan mandat dari FinCAPES dan telah dilaksanakan sejak Oktober 2025. Sebanyak 30 fotografer warga dilibatkan di delapan kawasan rawan banjir yang mencakup 21 kelurahan di Kota Pontianak.

Penentuan wilayah tersebut merujuk pada hasil studi FinCAPES Project melalui Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, yang menyimpulkan bahwa Pontianak rentan terhadap banjir akibat kondisi geografis serta tekanan pembangunan.

“Pontianak berada di dataran rendah dengan karakter tanah rawa gambut pesisir. Ditambah laju urbanisasi yang tinggi, ruang resapan air terus berkurang dan ini menjadi tantangan serius,” jelas Andi.

Ia juga menyinggung peristiwa banjir besar pada 8–9 Desember 2025 yang menjadi peringatan penting. Saat itu, permukaan air laut mencapai sekitar 1,9 meter dan air masuk hingga ke kolong Rumah Budaya.

“Ini bukan lagi kejadian rutin tahunan, tetapi sinyal bahwa risiko banjir semakin meningkat,” ujarnya.

Baca Juga : Kunjungan Perpustakaan Kota Pontianak Melejit Hampir 2 Kali Lipat

Rangkaian diseminasi Photovoice meliputi sesi refleksi, pameran fotografi warga, serta publikasi melalui podcast. Pameran tersebut menjadi ruang dialog antara warga, pemerintah, dan para pemangku kepentingan.

“Pameran ini kami hadirkan sebagai ruang percakapan, bukan untuk menyalahkan siapa pun, tetapi untuk memahami persoalan banjir dari berbagai sudut pandang,” kata Andi.

Kegiatan Nongkrong Senja di Pontianak turut digelar sebagai bagian dari rangkaian acara. Pendekatan budaya dipilih agar isu banjir dapat dibicarakan dengan cara yang lebih membumi dan dekat dengan kehidupan warga.

Acara ini dibuka oleh Wali Kota Pontianak yang diwakili Kepala Bapperida Kota Pontianak, Sidig Handanu, dan dihadiri perwakilan OPD, akademisi, organisasi masyarakat sipil, serta mitra internasional.

Sidig Handanu menegaskan bahwa banjir tidak lagi dapat dipandang sebagai persoalan musiman, melainkan tantangan struktural yang berkaitan dengan perubahan iklim, pola pembangunan, dan perilaku masyarakat.

“Isu banjir sudah masuk dalam isu strategis Kota Pontianak. Dalam perencanaan jangka pendek, menengah, hingga panjang, aspek ketahanan kota, risiko bencana, dan kualitas lingkungan hidup telah kami masukkan,” ujarnya.

Ia menilai Photovoice menjadi ruang penting untuk menangkap cara pandang masyarakat terhadap banjir. Menurutnya, warga merupakan pihak yang paling merasakan dampaknya sehingga perspektif mereka harus menjadi dasar dalam perumusan kebijakan.

“Melalui kegiatan ini, kita bisa melihat bagaimana masyarakat memaknai banjir—apakah sebagai bencana, genangan biasa, atau sesuatu yang dianggap wajar. Semua pandangan itu penting untuk didengar,” katanya.

Sidig juga menekankan pentingnya penguatan sistem peringatan dini sebagai bagian dari mitigasi risiko banjir. Ia menambahkan bahwa Pemkot Pontianak telah menjalankan berbagai program, mulai dari perbaikan drainase hingga adaptasi iklim perkotaan, namun persoalan banjir tidak bisa ditangani pemerintah kota sendiri.

“Ini masalah kita bersama. Pemerintah, masyarakat, akademisi, dan seluruh pemangku kepentingan harus bekerja sama, termasuk lintas daerah,” tegasnya.

Baca Juga : Pontianak Hitung Kerugian Banjir Lewat Kajian Aktuaria

Akademisi Universitas Waterloo, Kanada, Prof. Stefan Steiner, menegaskan bahwa risiko banjir di Pontianak tidak dapat dipahami hanya melalui peta dan data ilmiah, tetapi juga dari pengalaman hidup warga yang mengalaminya secara langsung.

“Model dan peta ilmiah memang penting, tetapi itu belum menceritakan keseluruhan realitas. Risiko banjir dialami di rumah, di jalan, di sekolah, dan dalam kecemasan setiap kali hujan turun,” ujarnya.

Menurutnya, perubahan iklim, penurunan muka tanah, serta pesatnya pembangunan telah mengubah genangan yang dulu dianggap biasa menjadi risiko banjir yang semakin serius.

Melalui kolaborasi antara Universitas Waterloo, Yayasan Kolase, dan Pemerintah Kota Pontianak, pendekatan Photovoice dikembangkan dengan menempatkan warga sebagai pusat produksi pengetahuan.

“Pengalaman hidup dan pengetahuan lokal warga Pontianak sangat penting dalam merumuskan strategi adaptasi terhadap perubahan iklim,” katanya.

Prof. Steiner menegaskan bahwa foto dan narasi warga bukan sekadar dokumentasi visual, melainkan dokumen sosial yang mampu menerjemahkan temuan ilmiah ke dalam pengalaman manusia.

“Dengan cara ini, risiko banjir menjadi lebih terlihat, lebih mudah dipahami, dan tidak bisa lagi diabaikan,” ujarnya.

Ia berharap diskusi dan dialog yang terbangun melalui Photovoice menjadi titik awal kerja bersama untuk membangun strategi mitigasi dan adaptasi banjir yang lebih adil dan berkelanjutan.

“Semua upaya ini bertujuan menghubungkan sains, perspektif masyarakat, dan kebijakan sebagai fondasi menuju Kota Pontianak yang lebih tangguh,” tutupnya. *

 

Kominfo

Jusuf Kalla Puji Pontianak Hijau, Nilai Agama Dinilai Jadi Fondasi Lingkungan

BERIKABARNEWS l PONTIANAK – Ketua Umum Dewan Masjid...

Ketua DMI Jusuf Kalla menghadiri pelantikan Pengurus DMI Provinsi Kalbar di Pendopo Gubernur Kalbar.

Bunda PAUD Pontianak Kunjungi TK Adhyaksa XI, Dorong Pendidikan Ramah Anak

BERIKABARNEWS l PONTIANAK – Bunda Pendidikan Anak Usia...

Bunda PAUD Kota Pontianak Yanieta Arbiastutie Kamtono berkunjung ke TK Adhyaksa XI.

Pontianak Hitung Kerugian Banjir Lewat Kajian Aktuaria

BERIKABARNEWS l PONTIANAK – Pemerintah Kota Pontianak mulai...

Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono menerima cinderamata kolaborasi dari perwakilan Universitas Waterloo Kanada, Prof. Stefan Steiner usai membuka Kick Off Kajian Kerugian dan Kerusakan secara Aktuaria Akibat Banjir di Pontianak, di Hotel Mercure, Kamis (15/1/2026).

1.504 Calon Jemaah Haji Pontianak Jalani Pemeriksaan Kesehatan

BERIKABARNEWS l PONTIANAK – Sebanyak 1.504 calon jemaah...

Petugas Dinas Kesehatan Kota Pontianak tengah melakukan pemeriksaan kesehatan calon jamaah haji Kota Pontianak.

Cerite Kote II Pukau DWP Kemenag Kalbar di Pontianak

BERIKABARNEWS l PONTIANAK – Lenggak-lenggok anggun para model...

Para model menampilkan fashion show pakaian motif corak insang saat kunjungan Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kemenag se-Provinsi Kalbar di Gedung UMKM Center.

Kunjungan Perpustakaan Kota Pontianak Melejit Hampir 2 Kali Lipat

BERIKABARNEWS l PONTIANAK – Gedung Layanan Perpustakaan Kota...

Suasana ruang baca Gedung Perpustakaan Kota Pontianak.

berita terkini