BERIKABARNEWS l – Sejumlah saham perusahaan keamanan siber global mengalami tekanan tajam pada perdagangan Senin waktu setempat. Pelemahan ini terjadi setelah startup kecerdasan buatan Anthropic memperkenalkan fitur terbarunya, Claude Code Security, yang diklaim mampu mendeteksi kerentanan tingkat tinggi pada repositori perangkat lunak open-source serta memberikan patch perbaikan secara otomatis.
Peluncuran fitur berbasis AI tersebut memicu kekhawatiran investor bahwa kemampuan model bahasa besar seperti Claude berpotensi menggerus peran platform keamanan siber konvensional. Sentimen negatif ini langsung menyeret saham para pemain utama di sektor tersebut.
CrowdStrike, Datadog, dan Zscaler tercatat merosot sekitar 11 persen. Sementara Fortinet dan Okta turun sekitar 6 persen. SentinelOne melemah 5 persen, sedangkan Palo Alto Networks terkoreksi tipis sekitar 3 persen.
Tekanan terhadap saham perangkat lunak sebenarnya sudah berlangsung dalam beberapa bulan terakhir. Pasar menilai perkembangan AI yang semakin canggih dapat mendisrupsi berbagai lapisan aplikasi, termasuk di industri keamanan siber. Namun, sejumlah analis menilai aksi jual kali ini lebih dipengaruhi narasi ketimbang perubahan fundamental.
Shrenik Kothari dari Robert W. Baird menyebut pergerakan tersebut sebagai kelanjutan dari kepanikan pasar. Menurutnya, Claude Code Security memiliki batasan karena tidak dirancang untuk mendeteksi intrusi secara real-time, menghentikan serangan yang sedang berlangsung, maupun mengelola sistem di lingkungan produksi. Fungsi-fungsi tersebut masih menjadi keunggulan utama platform keamanan tradisional.
Baca Juga : Arab Saudi Investasi Rp47 Triliun ke xAI Milik Elon Musk
Di tengah gejolak ini, Nvidia justru mengumumkan kolaborasi strategis dengan sejumlah perusahaan, termasuk Palo Alto Networks, untuk meningkatkan keamanan siber real-time pada sistem kendali industri. Langkah tersebut menunjukkan bahwa integrasi antara teknologi AI dan platform keamanan siber dipandang sebagai arah pengembangan industri ke depan.
Dinamika ini menegaskan bahwa meski AI membawa perubahan signifikan, peran keamanan siber tetap krusial. Alih-alih saling menggantikan, kombinasi keduanya dinilai menjadi kunci dalam menghadapi tantangan keamanan digital yang semakin kompleks.*
Sumber :
Reuters
