BERIKABARNEWS l BEIRUT – Eskalasi konflik di Timur Tengah kembali memanas setelah militer Israel melancarkan serangan udara besar-besaran ke pinggiran selatan Beirut pada Jumat (27/3/2026). Serangan ini diklaim menargetkan infrastruktur kelompok Hizbullah, di tengah laporan bentrokan darat sengit di wilayah selatan Lebanon.
Memasuki bulan pertama sejak konflik pecah, badan pengungsi PBB, UNHCR, mengeluarkan peringatan keras. Lebanon disebut berada di ambang krisis kemanusiaan besar jika pertempuran tidak segera mereda.
Serangan udara menghantam kawasan Tahouitet al-Ghadir di Beirut selatan tanpa peringatan dini. Media lokal melaporkan sedikitnya dua orang tewas dalam serangan tersebut. Tak lama berselang, militer Israel kembali mengeluarkan perintah evakuasi sebelum melancarkan gelombang serangan berikutnya.
Kepulan asap hitam terlihat membumbung tinggi dari sejumlah titik yang diduga menjadi basis Hizbullah. Kawasan tersebut kini sebagian besar telah ditinggalkan warga akibat intensitas serangan yang terus meningkat.
Kementerian Kesehatan Lebanon juga melaporkan korban jiwa di sejumlah wilayah lain. Serangan di kota Saksakiyeh menewaskan empat orang, sementara di wilayah Bekaa, seorang wanita yang tengah hamil dilaporkan turut menjadi korban.
Baca Juga : Israel Gempur Lebanon, Hizbullah Balas Roket
Di sisi lain, pertempuran darat juga terjadi di kawasan perbatasan selatan. Hizbullah mengonfirmasi pasukannya terlibat kontak senjata jarak dekat dengan tentara Israel di desa Bayada dan Shamaa, menggunakan senjata ringan hingga menengah untuk menahan laju pasukan lawan.
Sementara itu, militer Israel mengklaim menemukan gudang senjata, termasuk rudal anti-tank, yang disembunyikan di sebuah sekolah di kota Khiam, wilayah yang dianggap strategis di perbatasan.
Juru bicara militer Israel, Effie Defrin, menyatakan bahwa operasi ini bertujuan menciptakan zona keamanan hingga Sungai Litani guna melindungi wilayah utara Israel.
“Jika pemerintah Lebanon tidak melucuti Hizbullah, maka kami yang akan melakukannya,” tegasnya.
Dampak konflik ini semakin dirasakan oleh warga sipil. Otoritas Lebanon mencatat lebih dari 1.100 orang tewas, sementara lebih dari satu juta warga terpaksa mengungsi. Sekitar 136.000 di antaranya kini bertahan di tempat penampungan dengan fasilitas terbatas.
Perwakilan UNHCR di Lebanon, Karolina Lindholm Billing, menilai situasi saat ini sangat mengkhawatirkan dan berpotensi memburuk.
Senada dengan itu, ICRC juga mendesak perlindungan maksimal bagi warga sipil di tengah konflik yang terus berkecamuk.
“Warga sipil selalu menjadi pihak yang paling menderita dalam konflik seperti ini,” ujar Direktur Regional ICRC, Nicolas Von Arx.
Hingga kini, komunitas internasional terus memantau perkembangan situasi di Lebanon dan mendesak gencatan senjata segera dilakukan guna mencegah jatuhnya korban lebih banyak serta krisis kemanusiaan yang lebih luas.*
Sumber :
AFP
