BERIKABARNEWS l – Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas. Iran melancarkan serangkaian serangan ke sejumlah titik strategis di kawasan Timur Tengah pada Selasa (21/7/2026), sementara Presiden AS Donald Trump mengeluarkan peringatan keras kepada Teheran di tengah meningkatnya eskalasi perang.
Serangan terbaru Iran memicu sirene peringatan di Bahrain. Di saat yang sama, militer Yordania menyatakan berhasil mencegat dua gelombang serangan yang terdiri dari lima drone dan tiga rudal Iran saat melintasi wilayah udaranya.
Ketegangan semakin meningkat setelah kelompok Houthi di Yaman, yang merupakan sekutu Iran, mengancam akan memblokir pelabuhan-pelabuhan utama Arab Saudi. Jika ancaman itu direalisasikan, pasokan energi global berpotensi kembali terganggu, menyusul blokade Iran di jalur perdagangan minyak Selat Hormuz.
Garda Revolusi Iran (IRGC) juga mengklaim telah menyerang dan menghentikan dua kapal tanker minyak yang melintas di Selat Hormuz. Insiden tersebut menyebabkan kebakaran di atas kapal dan turut dikonfirmasi oleh badan operasi perdagangan maritim Inggris (UKMTO).
Selain itu, ancaman Houthi dinilai dapat mengganggu jalur ekspor minyak Arab Saudi melalui Pelabuhan Yanbu di Laut Merah, yang selama ini menjadi alternatif utama ketika distribusi minyak melalui Selat Hormuz terhambat.
Baca Juga : Serangan AS ke Iran Picu Eskalasi Baru
IRGC menyebut serangan mereka menyasar kompleks markas pasukan AS di kawasan Rukban, termasuk radar dan sistem pertahanan udara Amerika di Kuwait serta Bahrain.
Di sisi lain, Pentagon melaporkan lebih dari 100 personel militer AS mengalami luka-luka sejak konflik kembali pecah pada 7 Juli 2026.
Sebagai respons, militer Amerika Serikat melancarkan serangan balasan ke sejumlah fasilitas militer Iran dengan tujuan melemahkan kemampuan Teheran dalam mengganggu jalur pelayaran komersial di kawasan.
Presiden AS Donald Trump kemudian menegaskan bahwa Iran akan menghadapi konsekuensi yang sangat berat atas setiap korban jiwa dari pihak militer Amerika. Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan kondisi saat ini telah berkembang menjadi “perang berskala penuh.”
Baca Juga : Mengenal Khalil Al-Hayya, Pemimpin Baru Hamas Pengganti Yahya Sinwar
Meski aksi militer terus berlangsung, upaya diplomasi masih dijalankan. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, mengatakan komunikasi tidak langsung antara Teheran dan Washington masih berlangsung melalui negara mediator.
Di tengah memanasnya konflik, aktivitas diplomatik kawasan juga tetap berjalan. Menteri Dalam Negeri Iran melakukan kunjungan resmi ke Pakistan, sedangkan Presiden Lebanon Joseph Aoun dijadwalkan bertemu Donald Trump di Washington untuk membahas situasi keamanan serta isu perbatasan di Timur Tengah.*
Sumber :
AFP
