BERIKABARNEWS l – Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan udara ke sejumlah wilayah Iran pada Minggu (19/7). Serangan tersebut disebut sebagai respons atas tewasnya personel militer AS dalam konflik yang kembali memanas di kawasan.
Eskalasi terbaru ini memperburuk hubungan kedua negara dan memicu saling serang yang kini turut memengaruhi situasi keamanan di kawasan Teluk, termasuk jalur strategis Selat Hormuz yang menjadi salah satu rute utama distribusi minyak dunia.
Tak lama setelah serangan udara AS, Iran mengklaim melancarkan serangan balasan menggunakan drone ke dua fasilitas militer Amerika Serikat di Kuwait.
Menurut otoritas Iran, serangan tersebut menyasar Camp Udairi, yang dilaporkan mengalami kerusakan pada depot amunisi, serta Pangkalan Udara Ali Al Salem, yang disebut terdampak pada sistem radar dan pertahanan udara.
Baca Juga : Final Piala Dunia Terancam Kabut Asap, Gedung Putih Pantau Kualitas Udara
Teheran menyatakan serangan itu merupakan balasan atas operasi militer AS yang dalam beberapa hari terakhir disebut menghantam sejumlah infrastruktur penting di Iran, termasuk bandara, jalur kereta api, dan jembatan.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) sebelumnya melaporkan dua personel militernya tewas dan satu lainnya hilang dalam pertempuran di Yordania saat menghadapi serangan rudal dan drone.
Sebagai respons, militer AS meningkatkan operasi udara dengan menyerang sejumlah target militer Iran.
Di sisi lain, Organisasi Energi Atom Iran menyatakan salah satu proyektil menghantam proyek Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Darkhovin yang masih dalam tahap pembangunan. Iran mengecam serangan tersebut dan menyebutnya sebagai pelanggaran hukum internasional.
Konflik juga mulai berdampak pada negara-negara di kawasan Teluk.
Di Yordania, sistem pertahanan udara dilaporkan mencegat rudal yang mengarah ke wilayah Aqaba. Sementara di Kuwait, serangan terhadap infrastruktur memicu gangguan pada fasilitas listrik dan air bersih sehingga menimbulkan kepanikan di kalangan warga.
“Permintaan air bersih dan makanan kaleng melonjak drastis sejak pagi ini. Kami semua khawatir rantai pasokan dan layanan publik akan lumpuh total jika perang ini terus berlanjut,” ujar warga Kuwait, Hassan Rayan (61).
Baca Juga : Rusia Ukraina Saling Serang, 10 Warga Sipil Tewas dalam Sehari
Situasi serupa juga dilaporkan terjadi di Bahrain yang meningkatkan kewaspadaan setelah adanya ancaman serangan udara.
Menurut data Kementerian Kesehatan Iran, sedikitnya 50 orang tewas dan lebih dari 500 orang mengalami luka-luka sejak konflik kembali meningkat.
Ketegangan antara kedua negara juga dipicu oleh perebutan kendali di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang dilalui sebagian besar ekspor minyak dunia.
Iran dilaporkan membatasi aktivitas pelayaran di kawasan tersebut setelah Amerika Serikat kembali menerapkan tekanan ekonomi terhadap Teheran. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengklaim telah menghentikan dua kapal komersial yang melintasi selat itu.
Sementara itu, Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, menegaskan negaranya akan memberikan respons terhadap setiap serangan yang dilakukan Amerika Serikat.
Pernyataan senada juga disampaikan sejumlah pejabat militer Iran yang memperingatkan bahwa operasi militer akan diperluas apabila serangan terhadap wilayah Iran terus berlanjut.*
Sumber :
AFP
