BERIKABARNEWS l ROMA – Israel melancarkan serangan udara ke sejumlah wilayah di Lebanon selatan setelah dua prajuritnya tewas dalam pertempuran pada Rabu (5/8/2026). Meski ketegangan kembali meningkat, proses negosiasi damai yang berlangsung di Roma, Italia, dipastikan tetap berlanjut.
Militer Israel (IDF) mengonfirmasi dua prajurit reservis yang gugur adalah Mayor Harel Birenstock (34) dan Sersan Mayor Tamir Vaknin (33) dari Batalyon ke-2855 Brigade ke-55. Menurut IDF, keduanya merupakan korban jiwa pertama di Lebanon selatan sejak 28 Juni 2026.
Menyusul insiden tersebut, IDF melancarkan serangan udara dengan alasan Hizbullah telah melanggar kesepakatan gencatan senjata.
Sebelum operasi dimulai, militer Israel mengeluarkan perintah evakuasi kepada warga Kota Mansouri yang berjarak sekitar 9 kilometer dari Kota Tyre.
“Demi keselamatan Anda, Anda harus segera mengosongkan rumah dan bergerak ke arah utara,” kata juru bicara militer Israel berbahasa Arab, Ella Waweya.
Baca Juga : Rusia Hujani Kyiv dengan Rudal dan Drone, 10 Orang Tewas
Media pemerintah Lebanon melaporkan sedikitnya satu orang tewas dan 11 lainnya terluka akibat serangan yang terjadi di wilayah tersebut.
Eskalasi konflik berlangsung bersamaan dengan putaran ketujuh perundingan damai yang dimediasi Amerika Serikat di Roma. Agenda pembahasan meliputi penghentian konflik, penarikan bertahap pasukan Israel dari Lebanon selatan, pelucutan senjata Hizbullah, serta perluasan penempatan tentara resmi Lebanon di sejumlah zona percontohan.
Pembicaraan sempat dihentikan sekitar tiga jam lebih awal setelah ketua delegasi Israel, Duta Besar Israel untuk Amerika Serikat Yechiel Leiter, menyampaikan adanya dugaan kebocoran informasi dari pihak Lebanon.
Meski demikian, proses negosiasi dijadwalkan kembali dilanjutkan pada Kamis (6/8/2026).
Baca Juga : Zelensky Sebut Rusia Siapkan 30.000 Tentara Korea Utara untuk Perang Ukraina
Di tengah upaya diplomasi, Menteri Luar Negeri Italia Antonio Tajani dikabarkan telah berkomunikasi dengan Menteri Luar Negeri Iran untuk mendorong Teheran menghentikan aksi Hizbullah. Namun, Pemimpin Hizbullah Naim Qassem tetap menolak negosiasi langsung dan menegaskan organisasinya tidak akan menyerahkan senjata karena menganggap perundingan tersebut hanya merugikan Lebanon.
Sejak konflik kembali memanas pada Maret 2026 setelah serangan roket Hizbullah ke wilayah Israel, IDF mencatat sebanyak 38 personel militernya dan seorang kontraktor sipil tewas.
Sementara itu, otoritas Lebanon melaporkan lebih dari 4.300 orang meninggal dunia akibat serangan udara dan operasi darat Israel.
Meski gencatan senjata sempat menurunkan intensitas pertempuran dan memungkinkan lebih dari 800.000 warga kembali ke rumah mereka, badan kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut lebih dari 360.000 warga Lebanon hingga kini masih berada di pengungsian.*
