BERIKABARNEWS l TEHERAN – Pemerintah Iran menyatakan siap kembali mematuhi kesepakatan jeda konflik yang dicapai pada Juni lalu. Namun, Teheran meminta Amerika Serikat (AS) lebih dulu memenuhi komitmen yang telah disepakati.
Pernyataan itu disampaikan pemerintah Iran pada Selasa (1/9/2026), di tengah meningkatnya ketegangan militer setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan melancarkan serangan balasan lanjutan.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan sikap tersebut saat menghadiri KTT Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) di Bishkek, Kirgistan.
Pezeshkian mengatakan Iran masih membuka peluang untuk melakukan negosiasi. Namun, Teheran juga siap memberikan respons jika kembali menjadi sasaran serangan.
Eskalasi konflik meningkat setelah pasukan AS menggempur kawasan Pulau Larak, Iran, pada Minggu lalu.
Iran kemudian membalas dengan meluncurkan rentetan rudal ke dua pangkalan udara militer AS yang berada di Yordania.
Baca Juga : AS Tegaskan Tak Ada Negosiasi dengan Iran, Tekanan Ekonomi Diperketat
Presiden Donald Trump merespons serangan tersebut dengan ancaman balasan besar. Meski demikian, Trump membantah bahwa situasi saat ini akan membawa kedua negara kembali ke perang berskala penuh.
“Kami akan memukul mereka dengan keras… Akan ada balasan,” tegas Trump.
Ketegangan Iran dan AS turut berdampak terhadap pasar energi dunia. Harga minyak mentah berjangka Brent naik 1,3 persen pada Selasa (1/9/2026).
Kenaikan tersebut terjadi setelah dua kapal supertanker yang membawa minyak asal Arab Saudi ditembaki proyektil tidak dikenal saat melintas di Selat Hormuz.
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran penting bagi distribusi energi dunia. Hingga kini, jalur tersebut masih ditutup secara efektif oleh militer Iran.
Baca Juga : Israel Kembali Serang Suriah, Perselisihan dengan Utusan AS Makin Memanas
Konflik yang bermula dari serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu telah menyebabkan ribuan orang tewas.
Untuk meningkatkan tekanan terhadap Teheran agar membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz, Menteri Keuangan AS Scott Bessent memperketat sanksi ekonomi sekunder, terutama terhadap sektor perbankan.
Di sisi lain, Iran menghadapi tekanan ekonomi berupa inflasi tahunan yang mencapai 66 persen serta nilai tukar rial yang merosot ke level terendah sepanjang sejarah.
Gubernur Bank Sentral Iran Abdolnaser Hemmati memastikan cadangan devisa negara masih berada dalam kondisi memadai.
Bank Sentral Iran juga menyiapkan intervensi dana hingga 2 miliar dolar AS untuk menjaga stabilitas nilai tukar rial di pasar valuta asing.*
Sumber :
Reuters
