BERIKABARNEWS l TEHERAN – Pemerintah Iran mengubah doktrin militernya dari posisi bertahan menjadi “serangan penuh” (fully offensive) setelah negosiasi dengan Amerika Serikat untuk mencapai kesepakatan damai permanen menemui jalan buntu, Senin (17/8/2026).
Kebuntuan perundingan juga membuat upaya pemulihan lalu lintas kapal tanker minyak di Selat Hormuz terhenti. Konflik yang melibatkan AS dan Israel disebut masih berlanjut sejak 28 Februari lalu.
Berdasarkan Nota Kesepahaman (MoU) yang ditandatangani pada 17 Juni 2026, Iran dan AS memiliki waktu 60 hari hingga 17 Agustus untuk mencapai kesepakatan akhir terkait penghentian operasi militer dan program nuklir Iran.
Namun, perundingan gagal mencapai titik temu akibat perbedaan penafsiran terhadap Poin 5 MoU yang berkaitan dengan pengelolaan Selat Hormuz. Iran mengklaim memiliki hak untuk mengelola jalur strategis tersebut, sedangkan AS menolak penafsiran itu.
Ketegangan kemudian kembali meningkat setelah Iran menembaki kapal yang dinilai melintas tanpa izin.
Baca Juga : Gempuran Israel di Ansar dan Deir Zahrani, 11 Orang Tewas
Seorang pejabat senior Iran mengatakan Teheran akan menyampaikan tenggat waktu baru kepada AS melalui negara mediator. Batas waktu tersebut menjadi salah satu syarat untuk melanjutkan perundingan.
Jika jalur diplomasi kembali gagal, Iran disebut bersiap melakukan serangan militer terukur untuk menghadapi blokade laut AS.
Seluruh unsur militernya juga diminta meningkatkan kesiagaan menghadapi kemungkinan eskalasi di Selat Hormuz dan kawasan Timur Tengah.
Baca Juga : Dolar AS Melemah, Spekulasi Suku Bunga The Fed Kembali Jadi Sorotan
Teheran juga mendesak Washington menjalankan seluruh poin kesepakatan sesuai tenggat yang ditetapkan Iran.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan kesepakatan tersebut telah batal sejak 7 Juli 2026. Trump juga memperingatkan masyarakat AS mengenai potensi kenaikan harga bahan bakar akibat konflik yang terus berlangsung.
Melalui unggahan di platform Truth Social, Trump kembali menegaskan bahwa tujuan utama operasi militer AS adalah memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir dalam bentuk apa pun. Ia juga menyatakan AS akan menguasai Selat Hormuz setelah konflik berakhir.*
